“Tobulung Sang Manusia Padi”

 Jejak Kutukan dan Berkat dari Ladang yang Tak Pernah Usai

 Tobulung, Manusia Padi ilustrasi AI.

Literasiuuddanum.com - Senja turun perlahan di sebuah ladang yang tak pernah benar-benar kosong.

Di antara batang padi yang bergoyang pelan, tersimpan sebuah kisah yang diwariskan dari mulut ke mulut tentang seorang lelaki yang diliputi duka, dan tentang sosok yang bukan manusia, namun menjaga kehidupan.

Orang Dayak Uud Danum menyebutnya Tobulung, sang Manusia Padi, yang jejaknya meninggalkan berkat dan kutukan yang terus hidup dalam ingatan.

Awal Kisah

Alkisah, pada zaman dahulu, ada seorang lelaki bernama Raden Singa Lotek. Ia bermukim di Kolohkak Lahung Hajok, sebuah wilayah di perbatasan Sungai Melawi dan Sungai Ambalau. Meski menyandang sebutan Raden, ia adalah seorang petani yang sangat tekun dan disegani.

Namun, mendung duka menggelayuti hidupnya ketika istri tercinta meninggal dunia saat hendak melahirkan anak pertama mereka. Dalam tradisi suku Dayak Uud Danum, peristiwa pilu ini disebut sebagai Busou Beken. 

Baca juga : Bahtuk Tomarang Lukup

Karena rasa cinta yang teramat dalam dan tak rela melepas kepergian sang istri sendirian, Raden Singa Lotek berencana melakukan ngayau. Ia berniat mencari orang untuk dijadikan jihpon (pelayan) bagi arwah istrinya di alam baka.

Keajaiban di Ladang

Niat itu ia simpan hingga masa panen usai. Anehnya, meski ia telah memanen padi selama tujuh bulan hingga tujuh ubhung (lumbung) penuh terisi, padi di ladangnya seolah tak kunjung habis. Padahal, ia sudah terdesak waktu untuk segera melaksanakan upacara adat Dalok demi menyucikan proses kematian sang istri.

Merasa ada yang ganjil, pada suatu senja menjelang magrib, ia mengintip ladangnya. Di tangannya tergenggam sohpot (sumpit), alat berburu tradisional yang digunakan dengan cara ditiup. Di sela-sela rumpun padi, ia melihat sesosok manusia gaib yang disebut Tobulung (Manusia Padi). 

Sosok itu memakai caping, menggenggam sekehtem (ani-ani), dan menggendong takin (wadah padi) yang disebut tajung kuling, sebutan yang berasal dari motif anyaman rotannya, yang bermakna bahwa siapa pun yang memakainya saat panen akan terus kulang-kuling berkeliling di tempat itu saja karena padi yang melimpah tak kunjung habis.

Rupanya, Tobulung itulah yang selama ini selalu menyambung kembali tangkai-tangkai padi yang telah dipotong, membuat panen sang Raden tak berkesudahan.

Pertemuan dengan Tobulung

Raja Singa Lotek geram...

Tanpa pikir panjang, ia melepaskan anak sumpitnya. 

Seketika, tubuh Tobulung terhuyung-huyung terkena mata sumpit. Ia menoleh dan dalam sisa tenaganya, Tobulung berkata dengan suara terbata,

Dengarlah baik-baik, wahai Raden…
Kematian istrimu, itulah takdir.
Tak dapat ditolak.
Tak dapat dihindari.”

Tobulung terhuyung. Satu tangannya menekan luka. Napasnya berat, tertahan. Ia melangkah menjauh dari ladang itu.

“Tiada yang tersembunyi bagiku…
Niatmu untuk ngayau, telah kuketahui.
Namun aku tidak menghendaki
darah sesama tertumpah oleh tanganmu.”

Ia terus berjalan, menerobos rumpun padi. Daun-daun bergesekan pelan, seolah berbisik mengikuti langkahnya.

“Seharusnya engkau memberi hormat
pada arwah istrimu…
Bukan menuruti amarah,
bukan membiarkan duka menguasai hatimu.”

Ia berhenti sejenak. Tubuhnya goyah. Lalu kembali melangkah, makin menjauh, makin samar.

“Karena itulah padimu kulipatgandakan…
Agar langkahmu tidak menyimpang,
agar waktumu tidak tersesat.”

Ia tersandung. Namun tak menoleh. Tak kembali.

“Namun engkau…
membalas niat baik itu
dengan luka.”

Angin senja berembus pelan. Suaranya masih terdengar, meski tubuhnya kian jauh.

“Maka ingatlah ini…
ingatlah baik-baik, wahai Raden…
Karena perbuatanmu itu,
kelak keturunanmu,
akan merasakan akibatnya.”

Kutukan dan Berkat

Tobulung kemudian melangkah pergi meninggalkan kutukan sekaligus berkat. Sambil menahan sakit yang luar biasa, ia berjalan menerjang bukit dan lembah. 

Di setiap tempat ia nguhtak dahak (memuntahkan darah) akibat luka sumpit tersebut, tanah itu seketika menjadi sangat subur bagi siapa pun yang berladang di sana. Namun, di tempat ia manik ngahit (membuang hajat) karena menahan pedih, tanah itu berubah gersang, padi tak akan tumbuh, atau jika tumbuh pun tidak akan memberikan hasil yang baik.

Tobulung terus berjalan. Muntah dan buang hajat dilakukan berkali-kali sebagai efek dari sumpit Sang Raden. Di Korong Sabhang, wilayah Tonihik, ia tak sanggup lagi. Ia mengembuskan napas terakhir dengan tajung kuling yang masih melilit di pinggang. Seketika, jasadnya berubah menjadi batu.

Jejak yang Tertinggal

Hingga kini, batu tersebut dikeramatkan sebagai jejak abadi sang tobulung Mereka yang mengetahui kisah dan letaknya akan datang membawa sesajen berupa ayam putih untuk memohon keberuntungan.

Konon, setiap kali ada orang yang tiba di sana untuk memasak sesajen, langit akan seketika menumpahkan hujan seolah menjadi ujian. Di tengah guyuran hujan yang menyulitkan itulah, siapa saja yang tetap mampu menyalakan api dan menyelesaikan masakan sesajennya, diyakini akan memperoleh keberuntungan dan kehidupan yang berlimpah berkah.

Bahkan, banyak peziarah yang mengambil sejumput tanah di sekitar batu untuk dijadikan bahtuk bojah (batu beras). Mereka percaya, dengan menyimpan tanah bertuah itu, stok beras di rumah tak akan pernah habis berkat kemurahan hati sang Tobulung.***

Penulis : Jonison

Pencerita : Natalia H.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url