Monitoring Ujian SD 2026 Kec. Ketungau Hilir: "Catatan Hati"

Literasiuuddanum.com — Pelaksanaan Ujian Sekolah jenjang SD di Kabupaten Sintang tahun ajaran 2025/2026 dimulai serentak pada 11 hingga 13 Mei 2026, sesuai dengan Edaran Kadis Disdikbud Nomor 400.3.5/1509/DISDIKBUD-B, tanggal 22 April 2026.

(Kiri atas) : Perjalanan dari SDN 39 Baung Hilir (Kanan atas) : Perjalanan menuju SDN 22 Kendu
(Bawah): Perjalanan pulang menuju persimpangan Segantung Kec. Ketungau Hilir
Pengawas sekolah mengemban tanggung jawab manajerial dan supervisi akademik untuk memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga. Dalam konteks ini, peran pengawas menjadi sangat strategis sebagai representasi Dinas Pendidikan untuk memantau, mendengarkan, serta menjamin seluruh proses di lapangan berjalan sesuai dengan petunjuk teknis yang berlaku.

Mengingat luasnya wilayah binaan yang mencakup 53 sekolah di lima kecamatan, saya harus menerapkan strategi khusus agar setiap sekolah tetap terpantau dengan baik. 

Untuk jadwal kali ini, fokus pendampingan ditujukan pada 8 sekolah di Kecamatan Ketungau Hilir. SDN 43 Lepung Pantak, SDN 3 Kenuak, SDN 9 Setungkup, SDN 13 Maung, SDN 29 Kendu, SDN 22 Banjor, SDN 30 Pedadang Hilir, dan SDN 39 Baung Hilir.

Docpri : Kolase Foto bersama dengan 8 sekolah sasaran monitoring
Sekolah-sekolah lainnya tetap dipantau secara daring, terutama bagi sekolah yang terjangkau sinyal. Bagi sekolah yang mengalami kendala teknis atau memerlukan koordinasi cepat, dibuka ruang komunikasi melalui pesan WhatsApp atau lainnya.

Senin, 11 Mei 2026 

Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.35 WIB. Saya berangkat dari rumah di Kota Sintang mengendarai sepeda motor KLX. Saya menyusuri jalan aspal melintasi jembatan Sungai Kapuas melewati Kecamatan Binjai menuju Kecamatan Ketungau Hilir. Kecepatan saat itu rata-rata 60 km/jam karena suasana jalanan masih sangat sepi.

Sekolah pertama yang saya singgahi adalah SDN 43 Lepung Pantak. Di sana, saya disambut oleh Pak Mening selaku Kepala Sekolah beserta rekan-rekan guru. Setelah memastikan proses ujian berjalan sesuai edaran, saya melanjutkan perjalanan menuju SDN 09 Setungkup. Jumlah peserta ujian di sekolah ini sebanyak 30 Orang. Proses ujian berlangsung sesuai harapan.

Pukul 10.22 WIB, perjalanan berlanjut menuju SDN 22 Kenuak. Setelah melintasi jalanan tanah kuning, kami tiba di lokasi pada pukul 11.10 WIB dan disambut oleh kepala sekolah, para guru, serta 15 peserta ujian. Usai melakukan pemantauan dalam kelas, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto dan diskusi bersama. Pertemuan ditutup dengan makan siang bersama pada pukul 13.19 WIB

Hari pertama ini ditutup dengan perasaan lega karena semua berjalan sesuai harapan. Dokumentasi dan masukan dikumpulkan dari setiap sekolah menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depannya.

Cuaca cerah hari itu sangat membantu, sehingga jalanan relatif bersahabat meskipun di beberapa titik rusak parah. Tantangan muncul saat rem motor  tiba-tiba blong di tengah jalan. Sempat merasa waswas, namun puji Tuhan, kami menemukan bengkel untuk memperbaikinya sehingga perjalanan bisa berlanjut. 

Setelah kendala teknis teratasi, kami melanjutkan perjalanan dan tiba di Maung Darat pada pukul 16.33 WIB. Kami memutuskan untuk menginap di sana, di kediaman pribadi Pak Mening.

Selasa, 12 Mei 2026

Jadwal hari kedua adalah mengunjungi SDN 13 Maung dan SDN 29 Kendu. Pelaksanaan ujian di SDN 13 Maung diikuti oleh 36 siswa. Proses ujian berlangsung lancar tanpa kendala.

Di sela diskusi, rekan-rekan guru sempat menyarankan untuk menunda perjalanan ke SDN 29 Kendu, mengingat kondisi jalan yang diprediksi becek dan licin setelah diguyur hujan semalaman.

Tapi, saya dapat informasi melalui WA dari Kepsek SDN 29 Kendu kalau siang itu cuaca di Kendu panas, biasanya jalan cepat kering dan aman dilewati. Setelah melalui diskusi, saya putuskan untuk lanjut berangkat. Pertimbangan saya adalah mumpung sudah di Maung, karena susah sekali mengatur waktu kalau harus balik lagi ke sekolah ini di lain hari.

Saya memberikan info  ke Kepsek Kendu kalau kami mungkin tiba di luar jam dinas, tapi saya sangat berharap bisa ketemu guru-guru dan anak-anak peserta ujian.

Perjalanannya lumayan menantang. Kami melewati jalan perusahaan yang berliku-liku, bahkan sempat nyasar beberapa kali. Beberapa titik jalanan yang terendam banjir. Akhirnya, pukul 14.34 WIB, kami sampai di SDN 29 Kendu. Ternyata Kepsek, guru, dan 6 peserta ujian sudah menunggu kami di sana.

Senang rasanya melihat sekolah ini. Walaupun letaknya jauh, lingkungannya tertata rapi dan bersih. Setelah selesai diskusi dan foto bersama, kami menutup kunjungan dengan makan bersama yang sudah disiapkan.

Mengingat besok masih ada tiga sekolah lagi yang harus dikunjungi, sorenya kami langsung kembali ke Maung untuk menginap. Kali ini perjalanannya harus ekstra hati-hati karena rem motor saya kumat lagi, blong untuk kedua kalinya. Puji Tuhan, kami sampai di rumah singgah pukul 18.32 WIB dengan selamat.

Malam harinya, setelah mandi dan istirahat, saya, Pak Mening, dan Pak Jain (Kepsek SDN 13 Maung) duduk santai sambil ngobrol. Banyak hal yang kami bahas, mulai dari kendala teknis TKA yang gagal gara-gara sinyal, sampai curhatan guru non-ASN dan masalah kurangnya guru PNS di sana. Obrolan seru itu akhirnya ditutup dengan segelas kopi instan hangat tepat pukul 21.27 WIB.

Rabu, 13 Mei 2026

Hari ketiga, perjalanan kami lanjutkan menuju tiga sekolah terakhir. SDN 22 Banjor, SDN 30 Pedadang Hilir, dan SDN 39 Baung Hilir. Awalnya kami berencana berangkat pagi-pagi sekali, namun karena rasa lelah yang masih mendera, kami baru bisa memulai perjalanan pada pukul 06.15 WIB.

Pukul 07.40 WIB, kami tiba di SDN 22 Banjor dan disambut dengan sangat antusias oleh kepala sekolah serta para guru. Sebelum berdiskusi, saya langsung memantau pelaksanaan ujian di ruangan yang diikuti oleh 3 orang siswa. Agenda di sini kami tutup dengan diskusi di ruang guru dan makan bersama.

Pukul 09.56 WIB, kami bergeser ke SDN 30 Pedadang Hilir. Di sana, kepala sekolah dan rekan-rekan guru sudah menunggu. Peserta ujian di sekolah ini hanya 2 orang. Kami luangkan waktu untuk berdiskusi santai sebelum makan siang. Dalam diskusi tersebut, guru-guru memberikan masukan penting mengenai adanya kekeliruan penulisan dan instruksi pada naskah soal Matematika serta Agama, termasuk pola kunci jawaban yang terlalu berurutan. Temuan ini saya catat sebagai bahan laporan ke Dinas Pendidikan agar bisa diperbaiki ke depannya. Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama.

Pukul 11.37 WIB, kami berangkat menuju SDN 39 Baung Hilir dengan ditemani oleh Pak Jolis Sitanggang, Kepala SDN 22 Banjor, yang bertindak sebagai penunjuk jalan. Jalur menuju Baung Hilir ini cukup ekstrem; jalanan tanah kuning yang becek ditambah cuaca mendung yang menandakan hujan akan segera turun. Kami terpaksa tancap gas, meski di beberapa titik harus turun mendorong motor karena melewati titian papan yang licin dan rawan membuat ban terselip.

Kami tiba di SDN 39 Baung Hilir pukul 12.47 WIB, tepat saat hujan mulai turun. Kami segera berkumpul di ruang guru bersama para guru dan dua siswa yang sudah menunggu. Di tengah suara hujan, kami berdiskusi mengenai banyak hal yang nantinya perlu segera ditindaklanjuti. Pertemuan ini kembali kami akhiri dengan makan bersama dan foto dokumentasi.

(Kiri) : Pembahasan bersama guru untuk perbaikan penulisan, perintah dan pemerataan kunci jawaban di SDN 30 Pedadang Hilir. (Kanan) : Diskusi bersama di SDN 13 Maung.
Pukul 13.45 WIB, kami pun berpamitan. Saya, Pak Mening, dan Pak Jolis segera meluncur pulang di bawah sisa gerimis. Kondisi jalan saat itu sudah sangat becek dan licin. Beberapa kali motor Pak Mening harus berhenti karena tanah yang menumpuk di spakbor menghambat putaran ban depan. Beruntung ada Pak Jolis yang sudah terbiasa dengan medan seperti ini. Beliau bertukar pakai motor dengan Pak Mening dan mengendarai motor Verza tersebut dengan sangat lincah melewati lumpur.

Perjalanan pulang ini penuh tantangan. Di beberapa titik kami harus  berhenti. Saya sendiri sempat terjatuh karena motor seolah "kelelahan" menembus kubangan lumpur. Di titik tertentu kami berjumpa pengendara lain yang mengalami nasib serupa, bahkan ada seorang ibu yang jatuh saat membonceng anaknya.

"Itu pemandangan biasa buat kami, Pak," seloroh Pak Jolis menghibur saya.

Saya sempat tumbang di satu titik hingga motor menimpa kaki kanan. Meski kaki terasa sakit dan membuat sedikit pincang, semangat untuk sampai ke rumah membuat rasa sakit itu seolah tidak berarti. Pukul 15.23 WIB, kami akhirnya sampai di persimpangan jalan aspal Kecamatan Binjai. 

Di sana kami berpisah. Saya dan Pak Jolis lanjut menuju Sintang, sementara Pak Mening kembali ke tempat tugasnya di Lepung Pantak.

Pukul 16.47 WIB, saya akhirnya tiba di rumah di Sintang dengan selamat. 

Perjalanan monitoring kali ini memberikan kesan dengan segala ceritanya. Meski penuh tantangan fisik di lapangan, saya merasa lega karena semua proses di sekolah berjalan sesuai harapan.

Bagi saya, dokumentasi dan setiap masukan yang terkumpul bukan sekadar laporan, melainkan bahan evaluasi penting untuk perbaikan  ke depannya. 

Dalam setiap kunjungan, saya sengaja membangun suasana diskusi yang cair dan penuh kekeluargaan. Diskusi tersebut dikemas secara non-formal tanpa terlalu banyak basa-basi yang kaku. Saya ingin rekan-rekan guru dan kepala sekolah tidak merasa canggung, karena di mata saya, peran pengawas adalah sebagai orang tua yang mengayomi dan mendampingi, bukan sebagai penguasa yang memberikan jarak.***

Penulis: Jonison (Pengawas Sekolah Dasar Disdikbud Kab. Sintang)


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url