SDN 27 Deme: Kisah Perjalanan, Kegiatan, dan Kesan KKG Gugus III Nokan Nayan
![]() |
| Docpri : Foto bersama setelah kegiatan berakhir |
Gugus ini menaungi delapan sekolah yang tersebar di tiga jalur sungai yang berbeda. Di jalur Sungai Ambalau terdapat SDN 8 Mensuang, SDN 11 Buntut Sabon, SDN 15 Kepingoi, dan SDN 17 Mentomoi.
Di jalur Sungai Mentomoi ada SDN 12 Buntut Purun, sedangkan jalur Sungai Jengonoi meliputi SDN 10 Menantak, SDN 21 Menakon, dan SDN 27 Deme.
Kegiatan kali ini berlangsung pada 8 hingga 10 April 2026, bertempat di SDN 27 Deme, sebuah sekolah yang berdiri teguh di ujung paling hulu jalur Sungai Jengonoi.
Menantang Arus dan Jalan Setapak
Mencapai SDN 27 Deme bukanlah perkara mudah karena medan geografisnya yang ekstrem. Kami harus menaklukkan arus sungai, riam besar yang deras serta bebatuan melalui jalur air, dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan bekas gusuran perusahaan yang kini menyempit menjadi jalan setapak.
Para peserta dari jalur Sungai Ambalau dan Mentomoi harus transit terlebih dahulu di Desa Ukai sebelum menuju Desa Menantak. Rute darat ini hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau menggunakan jasa ojek warga jika kondisi jalan benar-benar kering.
Perjalanan dimulai pada 6 April 2026, dua hari sebelum kegiatan dimulai. Menggunakan sampan fiber bermesin speed 15PK, setelah mengisi bensin 30 liter dengan harga 17.000 per liter, saya berangkat meninggalkan ibu kota kecamatan pada siang hari. Beruntung, saat itu kondisi arus sungai sangat mendukung. Tidak sedang pasang, namun juga tidak terlalu surut.
Perjalanan dari Nanga Kemangai menuju Desa Deme ini memakan waktu selama dua hari. Rencana awalnya, saya ingin langsung menginap di Menantak agar perjalanan keesokan harinya lebih dekat ke Deme. Namun, karena cuaca hujan, akhirnya saya memutuskan untuk bermalam di Desa Ukai di rumah salah satu guru yang juga merupakan kerabat.
Keesokan harinya, sampan saya titipkan di Desa Ukai. Saya bersama Pak Guru Bambang Sutoyo kemudian diantar oleh Paman Asang menuju Ponohkak Semilah, sebuah titik persinggahan strategis untuk menghemat jarak tempuh kendaraan air. Dari sana, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki selama kurang lebih 47 menit menuju Menantak.
Kami menyusuri jalan setapak melewati bekas ladang warga yang agak menanjak menuju persimpangan jalan gusuran. Di sepanjang rute ini, kami menyempatkan diri mendokumentasikan pemandangan yang memadukan keindahan sekaligus kengerian.
Di kiri dan kanan jalan, perbukitan terjal dan lembah curam menguji nyali siapa pun yang melintas. Namun, di lokasi bernama Manuk Laut dan Dule, kelelahan itu terbayar oleh panorama yang sangat indah jika dilihat dari atas badan jalan. Di titik lainnya, kami harus melewati jembatan gantung yang mulai rapuh termakan usia. Beruntung, saat itu jalan sedang dalam perawatan sehingga perjalanan terasa sedikit lebih lancar.
Perjalanan Dari Desa Menantak menuju Desa Deme
Setibanya di Desa Menantak, kami numpang beristirahat di rumah dinas Kepala Sekolah sambil menunggu rombongan lain. Sambil menikmati kopi pahit dan kue tehpung khas suku Dayak Uud Danum, kami mengumpulkan tenaga sebelum kembali beralih ke moda transportasi air.
Kami menyewa tiga buah sampan bermesin menuju Puhkang Kiham Liang. Persoalan bensin menjadi tantangan tersendiri. Setiap kepala sekolah harus menyiapkannya secara mandiri karena bahan bakar sangat sulit didapat, dan harganya pun cukup membuat kening merinding.
Arus sungai menuju Puhkang Kiham Liang cukup beringas dengan gelombang besar yang memaksa sampan hanya bisa berhenti sampai di Puhkang Kiham Liang.
Sebelum melanjutkan langkah, kami menyempatkan diri sejenak untuk berfoto dengan latar belakang arus riam yang deras. Sebagian dari kami menikmati bekal makan siang di sana, selain untuk mengisi tenaga, hal ini juga bertujuan agar beban bawaan di tas terasa lebih ringan.
![]() |
| (Kiri): Foto sebagian peserta sedang menyantap bekal. (Kanan): Transit di Pangkalan Dusun Posuk |
Dari pangkalan Dusun Posuk, kami kembali menggunakan sampan menyusuri Sungai Jengonoi. Suasana di sini sangat kontras. Arus sungai begitu tenang bak air dalam kuali.
Di tepian, bunga-bunga pepohonan kensurai melambai ditiup angin, seolah mengucapkan selamat datang dan merestui perjalanan kami. Setelah 45 menit, kami tiba di pangkalan Desa Deme.
Anggota rombongan berpencar menuju rumah warga yang telah disiapkan sebagai penginapan, sementara saya langsung menuju sekolah untuk menyapa Kepsek dan para guru yang sibuk dengan persiapan.
Sore itu, setelah berbincang sambil menikmati kopi pahit, kami beristirahat total karena kondisi tubuh yang luar biasa lelah.
Setiap pagi dan sore, kami mandi di Sungai Jengonoi yang airnya masih murni, sejuk, dan dingin. Air ini mengalir langsung dari puncak air terjun Nohkan Lonanyan (Nokan Nayan) yang megah, membawa kesegaran alami.
Suasana pemukiman di Desa Deme terasa begitu asri dengan tata jalan yang cukup rapi. Keberadaan jerambah (jembatan penghubung) yang membentang di sepanjang jalan desa sangat memudahkan langkah kami.
Saat malam tiba, keheningan menyelimuti desa, terutama di tengah malam yang sunyi.
Begitu subuh menjelang, kesunyian itu pecah oleh simfoni alam. Suara tokek di tepian sungai, sahutan kalempiau yang menghiasi pagi, serta kokokan ayam jantan yang setia membangunkan kami.
Suasana pagi terasa kian menyentuh kalbu saat lamat-lamat terdengar alunan lagu lawas dari Dian Piesesha, membawa nuansa rindu yang menggetarkan jiwa, seolah memutar kembali memori indah di masa lalu.
Simbol Kearifan dan Transformasi Pendidik
Meskipun SDN 27 Deme berada di daerah penghujung sungai yang jauh dari hiruk-pikuk kota, kondisi fisik sekolah dan lingkungannya sungguh mengesankan. Semuanya tampak sangat terawat, bersih, dan rapi. Hal ini menjadi cerminan nyata dari dedikasi serta rasa memiliki yang tinggi dari para pendidik di sana dalam menjaga marwah sekolah mereka.
Baca juga : Terjauh Bukan Berarti Terlupakan: “Catatan Kunjungan PS ke Sekolah Binaan”
Keesokan harinya, kami disambut melalui prosesi adat Hopong, sebuah tradisi turun temurun dalam menerima tamu baru. Mulai dari parung pohpas di hopong, pemasangan sirou, menombak babi, morihkik sajah, nohtok hopong, hingga atraksi pencak silat. Inilah simbol kearifan lokal yang tetap teguh di tengah modernisasi. Kehadiran tokoh masyarakat, warga, dan anak-anak sekolah menunjukkan betapa besarnya dukungan mereka terhadap kemajuan pendidikan.
Kegiatan resmi dibuka oleh Pengawas Sekolah bersama perwakilan desa. Hari pertama diisi dengan materi pembinaan bertajuk "Transformasi Pendidik di Era Digital: Keluar dari Zona Nyaman atau Tergilas Zaman". Materi ini menjadi pengingat penting agar para guru terus beradaptasi. Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Ibu Guru Tri Ananda, S.Pd., tentang Penyusunan Media Pembelajaran, di mana para guru tampak antusias berdiskusi mencari cara kreatif mengajar meski dalam keterbatasan.
![]() |
| Docpri: Peserta sedang diskusi kelompok |
Refleksi Perjalanan Pulang
Keesokan harinya, kami kembali menyusuri rute yang sama. Pukul 17.25 WIB, saya tiba di Nanga Kemangai dalam keadaan selamat, meski raga terasa hampir runtuh. Secara keseluruhan, KKG ini berlangsung lancar, walau jumlah peserta sedikit menurun karena kendala geografis yang berat.
Pada akhirnya, KKG bukan sekadar pertemuan formal untuk pembinaan, menyusun naskah soal atau media ajar. KKG adalah perjalanan hati untuk saling menguatkan di tengah keterbatasan.
SDN 27 Deme telah mengajarkan bahwa pengabdian yang tulus selalu menemukan jalannya, meski harus menembus arus deras dan jalan setapak yang paling sunyi sekalipun.***
Penulis : Jonison, M.Pd. (Pengawas Sekolah Dasar Disdikbud Kab. Sintang)


