Terjauh Bukan Berarti Terlupakan: “Catatan Kunjungan PS ke Sekolah Binaan”
![]() |
| (Kiri): Foto bersama KS dan guru SDN 17 Tanjung Baung. (Kanan): Diskusi bersama KS dan guru |
Dari Ketungau Hilir Melewati Kayan Hilir Menuju Kayan Hulu
Pukul 13.25, kami memacu motor kembali ke arah Kota Sintang untuk mengejar jalur ke Nanga Mau. Jalannya bervariasi, dari aspal mulus sampai jalan sirtu yang sesekali bikin ban motor oleng.
Memang untuk sampai ke Kecamatan Kayan Hulu, kami harus melewati wilayah Kecamatan Kayan Hilir terlebih dahulu. Kalau dihitung-hitung, perjalanan kali ini total menyinggahi tiga kecamatan sekaligus.
Kami berhenti sebentar di Nanga Mau untuk mengisi bensin sekaligus menikmati semangkuk bakso. Lumayan untuk menambah tenaga sebelum melanjutkan perjalanan. Tujuh menit kemudian kami mampir ke rumah Pak Bansang, rekan sesama pengawas di Kayan Hilir. Kondisi beliau sedang dalam masa pemulihan, namun syukurlah keadaannya sudah mulai membaik.
Pertemuan ini terasa sangat berkesan, apalagi beliau akan memasuki masa pensiun per 1 Maret 2026 nanti. Sejenak kami bertegur sapa, numpang mandi, dan menyeruput kopi agar badan kembali segar.
Kami baru melanjutkan perjalanan saat hari mulai gelap. Motor kami pacu dengan tenang menuju Nanga Tebidah. Kami sengaja memilih berangkat agak malam sebagai taktik agar terhindar dari debu jalanan yang tebal. Suasana malam jauh lebih nyaman karena kendaraan yang lalu lalang sudah mulai berkurang.
![]() |
| Docpri : Bincang-bincang ringan dengan Pak Bansang di kediamannya. |
Perjalanan saat itu sangat menantang karena debu dari kendaraan roda empat seringkali menutup pandangan ketika berpapasan. Pukul 19.49, barulah kami tiba di Nanga Tebidah. Sesuai rencana awal, malam itu kami menginap di komplek Pastoran.
Baca juga : Dua Hari di Jantung Ambalau: "KKG Gugus II Nokan Cecak"
Sambutan hangat Pastor Paroki dan hidangan makan malam terasa seperti berkat yang luar biasa. Hal ini sangat kami syukuri setelah seharian bertarung dengan kondisi jalanan. Tubuh pun bisa beristirahat sejenak untuk agenda hari kedua.
Dua sekolah di kecamatan Kayan Hulu yang akan saya kunjungi terletak di dua jalur sungai yang berbeda. SDN 23 Nanga Torah terletak di jalur sungai Tebidah, sedangkan SDN 25 Empakan terletak di jalur Sungai Kayan.
Ke SDN 23 Nanga Torah tidak memungkinkan melewati jalur sungai karena air sedang surut, maka alternatif melalui jalan darat dengan kondisi jalan yang cukup susah, tetapi karena musim kemarau maka kawan-kawan menawarkan melalui jalan darat.
Ke SDN 25 Empakan tidak dapat ditempuh melalui jalan darat karena jalan yang jelek. Dalam istilah kawan saya kalau ditanya bagaimana kondisi jalan menuju Empakan, jawabannya adalah seperti jalan ke neraka, yang membuat saya mengernyitkan kening mendengarnya. Maka pilihan adalah melalui jalur air walaupun dalam kondisi kemarau tetapi masih memungkinkan untuk dilalui.
Hari Kedua dari Nanga Tebidah ke Nanga Torah
Kamis pagi pukul 07.35 WIB, kami bergerak menuju SDN 23 Nanga Torah ditemani dua rekan guru sebagai penunjuk jalan. Inilah rute yang benar-benar menguji nyali. Jalannya berupa tanah kuning, melewati area perusahaan sawit, hingga jalan usaha tani.
Beberapa kali motor saya tumbang karena menghindari parit alami, terjebak di tanjakan terjal bebatuan. Kami bahkan harus melintasi anak sungai di atas hamparan batu dan di beberapa tempat dengan jembatan seadanya. Bagi saya yang pemula di medan seperti ini, ini menuntut kehati-hatian tingkat dewa.
Di sekolah yang dinahkodai oleh Ibu Sixta Rinawati, S.Pd. ini, saya berdiskusi dengan dewan guru. Kami mendengar keluhan mereka sekaligus memberikan pembinaan. SDN 23 Nanga Torah diperkuat oleh 8 orang guru dan 1 orang tenaga teknis.
![]() |
| (Kiri): Foto bersama Guru dan murid SDN 23 Nanga Torah. (Kanan): Memantau PBM di dalam kelas |
Komposisinya terdiri dari 6 perempuan dan 2 laki-laki, didominasi oleh guru perempuan di usia sangat produktif. Pertemuan ditutup dengan momen manis menikmati makan siang menu ayam kampung di rumah salah satu rekan guru. Keramahan mereka membuat suasana terasa begitu hangat dan penuh kekeluargaan.
Saat perjalanan pulang, saya tersesat ke arah Kampung Bunyak karena tertinggal dari rombongan. Beruntung, ada seorang warga yang menunjukkan arah yang benar. Tak lama kemudian salah satu rekan guru datang menyusul untuk memastikan posisi saya.
Momen salah jalur ini justru menjadi bahan tawa kami saat berkumpul kembali. Sebuah selingan jenaka di tengah lelahnya perjalanan kami hari itu. Kami pun kembali ke Nanga Tebidah untuk beristirahat.
Hari Ketiga Menyisir Sungai Kayan ke SDN 25 Empakan
Jumat, 30 Januari 2026 pukul 07.15 WIB, tantangan berpindah ke jalur sungai. Kepala SDN 25 Empakan menjemput kami dengan sampan mesin 15 PK. Karena musim kemarau, air Sungai Kayan surut drastis hingga batu-batu sungai bermunculan di mana-mana.
![]() |
| Docpri : Tantangan jalur sungai menuju SDN 25 Empakan. Karena kondisi air yang dangkal, sampan perlu bantuan dorongan bambu secara manual untuk melewati titik-titik rawan bebatuan. |
![]() |
| (Kiri): Foto bersama KS dan guru usai diskusi di SDN 25 Empakan. (Kanan): Menyapa anak-anak pada saat jam olahraga |
Hidangan sayuran kampung segar, ayam kampung, dan tempoyak khas daerah sudah menanti kami. Kenikmatan santap siang dan hangatnya perbincangan itu menjadi penutup kunjungan kami. Pukul 12.05 WIB, kami bertolak kembali menuju Nanga Tebidah.
Perjalanan Pulang ke Kota Sintang
Setelah beristirahat sejenak di Pastoran, pukul 15.30 kami berpamitan untuk perjalanan pulang ke Sintang. Perjalanan panjang di sisa hari itu tuntas saat kami tiba di rumah pukul 21.02 dalam keadaan selamat. Rasa lelah tentu saja ada, namun ada kebahagiaan batin yang luar biasa.
Kunjungan ini adalah cara saya untuk menyampaikan pesan nyata kepada mereka, “Kalian tidak sendirian.” Saya menyadari bahwa kehadiran pengawas sekolah adalah suntikan semangat bagi kepala sekolah dan guru.
Meski mereka bertugas di garis depan yang jauh dari pusat kota, dedikasi mereka tetap terlihat, terdengar, dan sangat dihargai. Berada di daerah terpencil bukan berarti terabaikan, dan berada di titik terjauh bukan berarti terlupakan.
Melihat kekompakan dan semangat mereka mendidik di tengah sulitnya geografis Sintang, saya sadar akan satu hal. Pengabdian mereka adalah roh dari pendidikan yang sesungguhnya.
***





