Terjauh Bukan Berarti Terlupakan: “Catatan Kunjungan PS ke Sekolah Binaan”


(Kiri): Melintasi jalur aspal terakhir di persimpangan menuju SDN 17 Tanjung Baung, sebelum bertarung dengan debu dan jalan tanah kuning di area perkebunan sawit.
(Kanan): melintasi hamparan batu dan anak sungai yang menantang saat menuju SDN 23 Nanga Torah.

Literasiuuddanum.com. Rabu pagi, 28 Januari 2026, jarum jam menunjukkan pukul 05.10 WIB. Di saat wajah kota Sintang masih remang-remang, raungan mesin KLX plat merah sudah memecah kesunyian. Hari itu, saya memulai berkunjung ke tiga sekolah binaan yang terletak di dua kecamatan yang berbeda.

Mengingat medan yang bakal berat, saya mengajak seorang rekan guru untuk menemani. Maklum, di perjalanan jauh, berangkat sendiri adalah risiko besar. Tujuan pertama kami adalah SDN 17 Tanjung Baung.

Sekolah ini adalah satu-satunya sekolah di Kecamatan Ketungau Hilir yang terletak di pesisir Sungai Kapuas, berbatasan langsung dengan Kabupaten Kapuas Hulu. Sebenarnya bisa lewat jalur air, tapi biayanya sangat menguras dompet. Akhirnya, sepeda motor menjadi pilihan utama kami.

Sekitar pukul 08.50, kami memasuki wilayah perkebunan sawit. Tantangan utama kami adalah debu tebal akibat musim kemarau serta banyaknya persimpangan jalan yang membingungkan. Benar saja, kami sempat tersesat. Setelah bertanya kepada pekerja sawit, ternyata kami sudah salah jalan sejauh 5 km.

Kami pun putar haluan dan baru tiba di sekolah pukul 09.33 WIB. Sambutan hangat dari Ibu Herlina Apriliani, S.Pd., selaku Kepala Sekolah beserta para guru seketika menyegarkan raga. Suguhan kopi panas menambah semangat kami pagi itu.

Hal yang paling berkesan di sekolah ini adalah ketangguhan luar biasa yang mereka tunjukkan. Ada 8 orang guru di sekolah ini, dan hebatnya, semuanya adalah perempuan. Meskipun berada di kawasan rawan banjir dan mengelola Kelas Jauh di Sembam, semangat mereka tidak surut.
(Kiri): Foto bersama KS dan guru SDN 17 Tanjung Baung.
(Kanan): Diskusi bersama KS dan guru

Tanpa adanya sosok guru laki-laki, semua tugas fisik mereka kerjakan sendiri dengan mandiri. Hebatnya lagi, di tengah segala keterbatasan itu, mereka tetap aktif melatih anak-anak untuk persiapan O2SN. Setelah berdiskusi dan memantau sarana, kami menutup pertemuan dengan makan siang bersama sebelum berpamitan.

Dari Ketungau Hilir Melewati Kayan Hilir Menuju Kayan Hulu

Pukul 13.25, kami memacu motor kembali ke arah Kota Sintang untuk mengejar jalur ke Nanga Mau. Jalannya bervariasi, dari aspal mulus sampai jalan sirtu yang sesekali bikin ban motor oleng. 

Memang untuk sampai ke Kecamatan Kayan Hulu, kami harus melewati wilayah Kecamatan Kayan Hilir terlebih dahulu. Kalau dihitung-hitung, perjalanan kali ini total menyinggahi tiga kecamatan sekaligus.

Kami berhenti sebentar di Nanga Mau untuk mengisi bensin sekaligus menikmati semangkuk bakso. Lumayan untuk menambah tenaga sebelum melanjutkan perjalanan. Tujuh menit kemudian kami mampir ke rumah Pak Bansang, rekan sesama pengawas di Kayan Hilir. Kondisi beliau sedang dalam masa pemulihan, namun syukurlah keadaannya sudah mulai membaik. 

Pertemuan ini terasa sangat berkesan, apalagi beliau akan memasuki masa pensiun per 1 Maret 2026 nanti. Sejenak kami bertegur sapa, numpang mandi, dan menyeruput kopi agar badan kembali segar.

Kami baru melanjutkan perjalanan saat hari mulai gelap. Motor kami pacu dengan tenang menuju Nanga Tebidah. Kami sengaja memilih berangkat agak malam sebagai taktik agar terhindar dari debu jalanan yang tebal. Suasana malam jauh lebih nyaman karena kendaraan yang lalu lalang sudah mulai berkurang.

Docpri : Bincang-bincang ringan dengan Pak Bansang di kediamannya.

Perjalanan saat itu sangat menantang karena debu dari kendaraan roda empat seringkali menutup pandangan ketika berpapasan. Pukul 19.49, barulah kami tiba di Nanga Tebidah. Sesuai rencana awal, malam itu kami menginap di komplek Pastoran.

Baca juga : Dua Hari di Jantung Ambalau: "KKG Gugus II Nokan Cecak"

Sambutan hangat Pastor Paroki dan hidangan makan malam terasa seperti berkat yang luar biasa. Hal ini sangat kami syukuri setelah seharian bertarung dengan kondisi jalanan. Tubuh pun bisa beristirahat sejenak untuk agenda hari kedua.

Dua sekolah di kecamatan Kayan Hulu yang akan saya kunjungi terletak di dua jalur sungai yang berbeda. SDN 23 Nanga Torah terletak di jalur sungai Tebidah, sedangkan SDN 25 Empakan terletak di jalur Sungai Kayan.

Ke SDN 23 Nanga Torah tidak memungkinkan melewati jalur sungai karena air sedang surut, maka alternatif melalui jalan darat dengan kondisi jalan yang cukup susah, tetapi karena musim kemarau maka kawan-kawan menawarkan melalui jalan darat.

Ke SDN 25 Empakan tidak dapat ditempuh melalui jalan darat karena jalan yang jelek. Dalam istilah kawan saya kalau ditanya bagaimana kondisi jalan menuju Empakan, jawabannya adalah seperti jalan ke neraka, yang membuat saya mengernyitkan kening mendengarnya. Maka pilihan adalah melalui jalur air walaupun dalam kondisi kemarau tetapi masih memungkinkan untuk dilalui.

Hari Kedua dari Nanga Tebidah ke Nanga Torah

Kamis pagi pukul 07.35 WIB, kami bergerak menuju SDN 23 Nanga Torah ditemani dua rekan guru sebagai penunjuk jalan. Inilah rute yang benar-benar menguji nyali. Jalannya berupa tanah kuning, melewati area perusahaan sawit, hingga jalan usaha tani.

Beberapa kali motor saya tumbang karena menghindari parit alami, terjebak di tanjakan terjal bebatuan. Kami bahkan harus melintasi anak sungai di atas hamparan batu dan di beberapa tempat dengan jembatan seadanya. Bagi saya yang pemula di medan seperti ini, ini menuntut kehati-hatian tingkat dewa.


Motor pun sempat harus diseret karena mesin mati kelelahan seolah-olah minta beristirahat sejenak. Namun, begitu tiba di sekolah pukul 10.01 WIB, rasa lelah seketika sirna. Saya langsung menyapa ke setiap kelas dan menyaksikan sendiri betapa antusiasnya anak-anak dalam belajar.

Di sekolah yang dinahkodai oleh Ibu Sixta Rinawati, S.Pd. ini, saya berdiskusi dengan dewan guru. Kami mendengar keluhan mereka sekaligus memberikan pembinaan. SDN 23 Nanga Torah diperkuat oleh 8 orang guru dan 1 orang tenaga teknis.

(Kiri): Foto bersama Guru dan murid SDN 23 Nanga Torah.
(Kanan): Memantau PBM di dalam kelas 

Komposisinya terdiri dari 6 perempuan dan 2 laki-laki, didominasi oleh guru perempuan di usia sangat produktif. Pertemuan ditutup dengan momen manis menikmati makan siang menu ayam kampung di rumah salah satu rekan guru. Keramahan mereka membuat suasana terasa begitu hangat dan penuh kekeluargaan.

Saat perjalanan pulang, saya tersesat ke arah Kampung Bunyak karena tertinggal dari rombongan. Beruntung, ada seorang warga yang menunjukkan arah yang benar. Tak lama kemudian salah satu rekan guru datang menyusul untuk memastikan posisi saya.

Momen salah jalur ini justru menjadi bahan tawa kami saat berkumpul kembali. Sebuah selingan jenaka di tengah lelahnya perjalanan kami hari itu. Kami pun kembali ke Nanga Tebidah untuk beristirahat.

Hari Ketiga Menyisir Sungai Kayan ke SDN 25 Empakan

Jumat, 30 Januari 2026 pukul 07.15 WIB, tantangan berpindah ke jalur sungai. Kepala SDN 25 Empakan menjemput kami dengan sampan mesin 15 PK. Karena musim kemarau, air Sungai Kayan surut drastis hingga batu-batu sungai bermunculan di mana-mana.

Docpri : Tantangan jalur sungai menuju SDN 25 Empakan. Karena kondisi air yang dangkal, sampan perlu bantuan dorongan bambu secara manual untuk melewati titik-titik rawan bebatuan.
Berkali-kali gas mesin harus dikecilkan dan sampan didorong menggunakan batang bambu agar kipas tidak menghantam batu. Tiba di sekolah pukul 08.49 WIB, saya langsung menyapa anak-anak yang tengah asyik berolahraga. Saya menyempatkan diri memberikan motivasi singkat bagi mereka.

SDN 25 Empakan ini dipimpin oleh Pak Aja, A.Ma.Pd., dengan diperkuat oleh 8 orang guru. Komposisi pengajarnya terdiri dari 3 laki-laki dan 5 perempuan. Pertemuan dengan para guru diakhiri dengan jamuan makan siang yang sungguh luar biasa.
(Kiri): Foto bersama KS dan guru usai diskusi di SDN 25 Empakan.
(Kanan): Menyapa anak-anak pada saat jam olahraga

Hidangan sayuran kampung segar, ayam kampung, dan tempoyak khas daerah sudah menanti kami. Kenikmatan santap siang dan hangatnya perbincangan itu menjadi penutup kunjungan kami. Pukul 12.05 WIB, kami bertolak kembali menuju Nanga Tebidah.

Perjalanan Pulang ke Kota Sintang

Setelah beristirahat sejenak di Pastoran, pukul 15.30 kami berpamitan untuk perjalanan pulang ke Sintang. Perjalanan panjang di sisa hari itu tuntas saat kami tiba di rumah pukul 21.02 dalam keadaan selamat. Rasa lelah tentu saja ada, namun ada kebahagiaan batin yang luar biasa.

Kunjungan ini adalah cara saya untuk menyampaikan pesan nyata kepada mereka, “Kalian tidak sendirian.” Saya menyadari bahwa kehadiran pengawas sekolah adalah suntikan semangat bagi kepala sekolah dan guru.

Meski mereka bertugas di garis depan yang jauh dari pusat kota, dedikasi mereka tetap terlihat, terdengar, dan sangat dihargai. Berada di daerah terpencil bukan berarti terabaikan, dan berada di titik terjauh bukan berarti terlupakan.

Melihat kekompakan dan semangat mereka mendidik di tengah sulitnya geografis Sintang, saya sadar akan satu hal. Pengabdian mereka adalah roh dari pendidikan yang sesungguhnya.

***

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url