Pertemuan Berkesan dengan Matius Mardani di Kongres Internasional I Literasi Dayak

 

Matius Mardani, Hendro - Dokpri

Di tengah hiruk-pikuk acara Kongres Internasional I Literasi Budaya Dayak dan The 1st Dayak Book Fair yang dilaksanakan di Sekadau pada tanggal 15-16 Mei 2026, saya berjalan menyusuri deretan stan buku sambil menikmati suasana yang penuh semangat literasi budaya.

Banyak penulis, pegiat budaya, dan tokoh Dayak hadir dalam kegiatan itu. Namun, ada satu nama yang sejak lama hanya saya dengar dari cerita Bapak Jonison, M.Pd., yaitu Bapak Matius Mardani, seorang penulis buku Dayak asal Salatiga tetapi memiliki istri yang berasal dari Suku Dayak Uud Danum, Dsn. Kepingoi, Kecamatan Ambalau, mereka kini tinggal di Tangerang.

Nama beliau terasa tidak asing di telinga saya. Bapak Jonison sering bercerita tentang sosok penulis yang gigih mengangkat budaya Dayak lewat tulisan. Karena itu, dalam hati saya tumbuh rasa ingin tahu untuk bertemu langsung dengan beliau.

Kesempatan itu akhirnya datang di sela-sela kegiatan, tepatnya di sebuah Lupung Coffee ITKK di sudut lokasi acara. Saat itu suasana cukup santai. Aroma kopi bercampur dengan suara diskusi para peserta kongres. Di sanalah saya pertama kali bertemu dengan Bapak Matius Mardani.

Beliau menyapa dengan ramah dan sederhana, jauh dari kesan seorang penulis besar. Percakapan kami pun mengalir begitu saja. Dari obrolan tentang perjalanan menuju acara, perlahan pembicaraan masuk ke budaya Dayak, dan pengalaman beliau ketika berkunjung ke Ambalau beberapa tahun lalu.

Yang paling membuat saya terkejut adalah ketika beliau mengungkapkan kerinduannya untuk mengunjungi Desa Kepingoi di Kecamatan Ambalau. Mata beliau tampak berbinar ketika menyebut nama desa itu, seolah ada banyak kenangan yang tersimpan di sana.

“Sudah lama saya ingin kembali ke sana,” ujar beliau pelan.

Tidak lama kemudian, beliau menyebut sebuah nama yang sangat saya kenal, yaitu Candra. Saya langsung teringat bahwa dahulu saya mengenal anak itu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Dari cerita yang semakin panjang itulah kami akhirnya menyadari bahwa ternyata ada hubungan keluarga di antara kami.

Pertemuan itu terasa begitu hangat. Pertama kali kami bertemu saat beliau mengantar kami bertiga, yaitu Bapak Sopian, S.Sos., M.Si. selaku Ketua IKADUM, dan Bapak Jonison selaku pengawas sekolah, ke sebuah penginapan yang telah disediakan oleh panitia, yaitu di Yayasan Kaling Kunang.

Seolah kami bukan orang yang baru saling mengenal. Banyak hal yang kami bicarakan, terutama tentang dunia literasi dan budaya Dayak. Beliau dengan penuh semangat memberi banyak masukan tentang pentingnya menulis.

“Tulis saja apa pun yang berkaitan dengan budaya,” pesan beliau.

“Cerpen budaya, cerita rakyat, kisah kampung, tradisi, semua itu sangat berharga. Kalau tidak ditulis, suatu saat bisa hilang.”

Kata-kata itu begitu membekas dalam pikiran saya. Saya menyadari bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga menjaga ingatan dan warisan leluhur agar tetap hidup.

Pertemuan singkat di ruang kopi itu akhirnya menjadi salah satu pengalaman berharga bagi saya dalam acara kongres tersebut. Dari seseorang yang sebelumnya hanya saya dengar namanya, Bapak Matius Mardani berubah menjadi sosok yang terasa dekat seperti keluarga sendiri.

Sejak hari itu, saya semakin percaya bahwa literasi budaya bukan sekadar tentang buku, melainkan tentang menjaga jembatan cerita antara masa lalu, masa kini, dan generasi yang akan datang.

Penulis: Hendro

***

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url