SDN 26 Jengkarang: “Kisah Perjalanan, Kegiatan dan Kesan KKG Batu Harimau”

Docpri: Foto bersama PS, KS, Guru, Kades dan ToMas sebelum acara pembukaan kegiatan
Literasiuuddanum.com-Kecamatan Ambalau memiliki empat gugus KKG, yaitu Nokan Cecak, Batu Nyandung, Nokan Nayan, dan Batu Harimau. 

Kali ini, saya ingin berbagi kisah perjalanan, kegiatan, serta kesan selama membersamai rekan-rekan di Gugus IV Batu Harimau. Kegiatan berlangsung dari tanggal 26 hingga 28 Februari 2026, bertempat di SDN 26 Jengkarang, sebuah sekolah yang terletak di ujung paling hulu jalur Sungai Melawi.

Mencapai lokasi ini bukanlah perkara mudah. Satu-satunya sarana transportasi yang bisa digunakan adalah jalur air dengan medan geografis yang ekstrem. Menaklukkan riam besar yang deras serta bebatuan. Gugus ini beranggotakan 10 sekolah. SDN 6 Tanjung Andan, SDN 24 Pere, dan SDN 25 Ledan di jalur Sungai Gilang. Sementara itu, SDN 29 Rebungai, SDN 19 Sake, SDN 20 Keremoi, SDN 4 Buntut Pimpin, SDN 16 Rade, SDN 7 Kepala Jungai, dan SDN 26 Jengkarang berada di jalur Sungai Melawi Hulu.

Mengingat sebagian besar guru tidak menguasai medan, panitia kecil bersama pengurus KKG berinisiatif menggunakan jasa motoris dari Desa Kepala Jungai yang sudah hafal jalur tersebut. Untuk efisiensi, peserta dari SDN 29 Rebungai, SDN 19 Sake, dan sekolah-sekolah di jalur Sungai Gilang diminta menunggu kendaraan jemputan di Desa Keremoi. Sedangkan sekolah yang berada di hulu Keremoi menunggu di desa masing-masing.

Perjalanan Penuh Adrenalin dan "Terapi Jantung"

Kendaraan jemputan sudah tiba di Nanga Kemangai, pusat Ibu Kota Kecamatan Ambalau, satu hari sebelum keberangkatan untuk mempersiapkan bensin. Keesokan harinya, 25 Februari 2026, saya berangkat dari Nanga Kemangai pukul 07.00 WIB, ditemani seorang guru. Pukul 10.35 WIB, kami tiba di Desa Keremoi dan bertemu dengan rombongan peserta lainnya.

Perjalanan berlanjut dengan menyusuri sungai, menyinggahi rekan-rekan guru di Buntut Pimpin dan Nanga Rade. Total penumpang di dalam longboat bermesin 40 PK tersebut berjumlah 30 orang, termasuk motoris dan asistennya. Perjalanan kali ini benar-benar menjadi "terapi jantung" yang tak terlupakan. Saat itu air sungai sedikit pasang. Karena longboat bermuatan berat, kami terpaksa turun di setiap riam ekstrem untuk meringankan beban agar mampu menaklukkan arus deras, gelombang besar dan berulak.

(Kiri) Sampan sedang menanjak riam, (Kanan) para peserta turun jalan kaki
Riam Kerae, Tosan, Koboho, dan Kerepe adalah riam yang mengerikan. Di sini, tantangannya bukan lagi duduk santai. Kami berjalan kaki menyusuri pinggiran sungai, meniti bebatuan licin, dan sesekali menerobos semak berduri. Kesempatan ini kami gunakan untuk berfoto dan bersenda gurau guna mengikis rasa takut. 

Ada perasaan ngeri bercampur takjub melihat arus dan gelombang besar, namun lega ketika sampan berhasil lolos. Di Riam Kerepe, kami menyempatkan diri menyantap bekal di atas hamparan batu sambil menikmati pemandangan air terjun mini.

Transit di Kepala Jungai

Pukul 15.27 WIB, kami tiba di Puhkang Tambuk. Tempat ini merupakan lokasi transit terakhir karena longboat tidak bisa lagi melewati riam Tambuk yang ekstrem. Dari sini menuju Desa Kepala Jungai, tersedia dua pilihan. Berjalan kaki atau menyewa jasa ojek warga setempat. Berjalan kaki memang menguras tenaga karena harus menanjak dan menuruni bukit, namun menawarkan pemandangan alam lembah, perbukitan dan hutan yang sangat menakjubkan. Sementara itu, jika memilih naik ojek, adrenalin akan teruji oleh jalanan terjal dan parit alami.

Waktu tempuh berjalan kaki memakan waktu kurang lebih 30 menit hingga 1 jam. Akhirnya pilihan diserahkan kepada pribadi masing-masing, dengan kesepakatan akan berkumpul kembali di pangkalan Desa Kepala Jungai sebelum melanjutkan perjalanan menuju Jengkarang.

Pukul 16.25 WIB, kami tiba di pintu gerbang Desa Kepala Jungai. Sebelum meneruskan perjalanan ke SDN 26 Jengkarang, kami mampir sejenak di sebuah rumah kebun yang menyerupai vila milik Kepala SDN 7 Kepala Jungai. Di sana, kami disambut hangat dengan suguhan makanan dan kopi hangat. Rasanya sungguh nikmat melepas lelah setelah perjalanan panjang, apalagi ditambah suasana sekitar yang menawarkan keindahan.

Posisi pondoknya unik, dibangun layaknya rumah terapung di atas aliran anak sungai yang dibendung. Sungai tersebut dimanfaatkan menjadi kolam budidaya ikan yang terkelola dengan apik, serta dikelilingi aneka pepohonan dan tanaman buah. Tempat ini benar-benar menjadi inspirasi persiapan aset masa pensiun yang ditata dengan sangat baik dan harmonis dengan alam.

Menembus Kegelapan dan Sambutan Adat

Pukul 17.30 WIB, kami melanjutkan perjalanan menuju SDN 26 Jengkarang dengan menaiki sampan yang berbeda. Karena peserta bertambah dengan kehadiran rekan-rekan dari SDN 7 Kepala Jungai, rombongan terbagi menjadi dua sampan bermesin 15 PK dan 1 sampan cis. 

Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam. Kami pun harus menembus kegelapan malam di tengah sungai. Lampu senter sebagai penunjuk arah. Beruntung, sang motoris sudah sangat hafal alur sungai, sehingga kami tiba di pangkalan Desa Jengkarang dengan aman pada pukul 18.27 WIB.

Sebelum memasuki komplek sekolah yang akan menjadi tempat pelaksanaan kegiatan sekaligus penginapan, kami disambut dengan hangat oleh seluruh warga Desa Jengkarang. Suasana kekeluargaan terasa begitu kental saat KS, guru, tokoh masyarakat, orang tua murid, hingga anak-anak sekolah berkumpul bersama, menunjukkan kekompakan dan kepedulian yang luar biasa terhadap kami. 

Docpri : Hopong; foto diambil dalam kegelapan malam hari
Diterangi lampu diesel milik desa, penyambutan diawali dengan prosesi adat melewati hopong. Prosesi ini merupakan wujud penghormatan serta simbol keramahan budaya setempat dalam menerima tamu dengan tangan terbuka. Setelah seluruh rangkaian acara adat yang khidmat dan hangat tersebut selesai, kami diarahkan menuju ruang kelas untuk beristirahat dan makan malam.

Transformasi dan Komitmen Pendidik

Keesokan harinya, kegiatan resmi dibuka oleh Pengawas Sekolah yang dihadiri oleh Kepala Desa, Ketua Komite, dan para Tokoh Masyarakat setempat. Setelah acara pembukaan, hari pertama terbagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama, para peserta menerima materi pembinaan bertajuk "Transformasi Pendidik di Era Digital: Keluar dari Zona Nyaman atau Tergilas Zaman." Materi ini menjadi pengingat bagi peserta untuk terus beradaptasi. Sesi kedua dilanjutkan dengan pembahasan mengenai Implementasi Kokurikuler di SD. Materi hari pertama ini diisi penuh oleh Pengawas Sekolah. Sebelum bubar setiap peserta menandatangani lembar komitmen sebagai wujud janji bahwa pengetahuan yang didapat tidak hanya berhenti di hari itu, melainkan harus diimplementasikan di sekolah masing-masing.

(Kiri) PS sedang memberikan materi, (Kanan) Peserta sedang berdiskusi persekolah
Memasuki hari kedua, semangat peserta tetap terjaga. Sesi pertama diisi oleh Ibu Saedah, S.Pd., yang memaparkan materi tentang Pembelajaran Mendalam dan Pemanfaatan AI. Kemudian dilanjutkan oleh Pengurus gugus dengan materi penyusunan naskah soal MID dan SAS. Bahkan, ditunjuk satu tim khusus yang ditugaskan menyusun soal Ujian Sekolah (US) mata pelajaran Pendidikan Pancasila sebagai bentuk kontribusi nyata gugus dalam memperkaya bank soal di tingkat kabupaten Sintang.

Malamnya setelah makan bersama, kegiatan dilanjutkan dengan laporan panitia dan acara ramah tamah Gugus Batu Harimau. Momen ini terasa haru karena sekaligus menjadi ajang penghormatan bagi Kepala SDN 26 Jengkarang, Monsan, S.Pd., yang akan memasuki masa purna tugas per 1 Mei 2026. Malam itu pun ditutup dengan acara hiburan bersama warga setempat. Dalam suasana yang penuh kehangatan, semua berbaur menjadi satu tanpa ada jurang perbedaan antara tamu dan tuan rumah.

Ekspedisi Sungai Talantang, Harmoni Alam dan Kearifan Lokal

Di sela-sela kegiatan KKG, saya bersama Pak Yus, Pak Monsan, dan Pak Buten berkesempatan menjelajah hutan menuju Sungai Talantang, salah satu anak sungai Jengkarang. Selain untuk menyegarkan pikiran, tujuan kami adalah mencari ikan yang menurut penuturan warga setempat sangat melimpah di sana. 

Perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar 55 menit dengan medan yang menantang. Kami harus mendaki dan menuruni bukit di bawah naungan pohon-pohon raksasa. Hutan rimba ini sungguh masih terjaga keasriannya, sebuah kekayaan alam yang langsung saya abadikan melalui lensa kamera.

Sepanjang jalur setapak dan sungai, kami menjumpai buah-buah durian yang jatuh berserakan dan dibiarkan begitu saja. Karena jaraknya yang jauh dari perkampungan dan jumlah buah yang sangat banyak. Durian-durian itu seolah menjadi sedekah alam bagi siapa saja yang melintas. Kami pun berhenti sejenak, membelah beberapa buah durian segar untuk dinikmati langsung di tempat sebagai penambah tenaga sebelum melanjutkan langkah.

Sesampainya di pinggir sungai, kami mulai menjala dan memasang pukat. Ikan hasil tangkapan yang terkumpul sekitar 4 kg. Kami berbagi tugas untuk memasak, membersihkan ikan dan ada pula yang menyalakan api. Namun, saat api sedang berkobar, tiba-tiba turun gerimis. Di sinilah kearifan lokal bekerja, Pak Buten mengucapkan mantra tradisional dan memberikan sesajen sebagai bentuk rasa hormat kepada alam. Ajaibnya, cuaca kembali cerah tak lama kemudian. Hal ini membuktikan bahwa kita hanyalah tamu di alam ini, sehingga penting untuk selalu menjaga adab dan meminta izin saat beraktivitas di dalamnya.

(Kiri) Pak Buten dan Pak Yus sedang menjala ikan, (Kanan) Kami sedang persiapan makan
Tepat pukul 14.00 WIB, kami memutuskan untuk pulang. Meski raga terasa remuk redam, hati kami dipenuhi kepuasan setelah menikmati pemandangan alam bebas. Dalam perjalanan, lintah hutan yang oleh masyarakat setempat disebut lomatok menempel di kaki kami. Bukannya merasa risih, rekan saya justru berkelakar, "Biarkan saja, biarlah dia menghisap darah kotor!" Candaan itu memicu gelak tawa kami. 

Binatang ini memang sering menjadi bahan teka-teki jenaka: "Jika diingat maka akan dibuang, tetapi jika dilupakan maka akan terbawa. Apakah itu?" Jawabannya tentu saja lomatok yang baru disadari keberadaannya setelah sampai di rumah.

Merajut Simpul Keakraban

Kami akhirnya tiba kembali di perkampungan pada pukul 16.29 WIB. Keesokan harinya, setelah sarapan bersama, kami bersiap untuk berpamitan. Pukul 08.39 WIB, kami meninggalkan Desa Jengkarang menuju Desa Kepala Jungai. Setibanya di sana, kami mampir sejenak di SDN 7 Kepala Jungai untuk menikmati jamuan kopi, serta mengabadikan momen berfoto ria.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Puhkang Tambuk, lokasi sampan kami ditambat, ada yang berjalan kaki dan ada pula yang naik ojek. Perjalanan siang itu cukup melelahkan di bawah terik matahari, namun rasa penat seketika hilang saat kawan-kawan langsung menceburkan diri mandi di sungai setibanya di Puhkang Tambuk.

Perjalanan pulang terasa berbeda karena debit air sungai yang sudah sangat surut, memaksa kami harus beberapa kali turun dari sampan untuk berjalan kaki. Meskipun melelahkan, suasana tetap riuh dengan gelak tawa dan canda ria. Lucunya, saat perahu menyusuri arus yang tenang, ada kawan yang santai tiduran dengan gaya "tidur duduk" yang khas kepala menunduk ke kiri, ke kanan, ke depan, dan kadang bergoyang layaknya pohon pinang tertiup angina. Saat suasana mulai senyap karena masing-masing mulai menikmati rasa penat, tiba-tiba celetukan konyol muncul dan kembali mengundang tawa bersama, sungguh sebuah kehangatan kekeluargaan yang indah. 

Di tengah perjalanan, salah satu rekan jatuh sakit karena kelelahan. Beruntung, pertolongan pertama menggunakan obat seadanya dan ramuan tradisional segera diberikan.

Satu per satu anggota rombongan pun diantarkan kembali ke tempat tujuan masing-masing, kecuali sekolah dalam jalur sungai Gilang yang harus menunggu jemputan lagi. Saya bersama dua kawan lainnya dan motoris akhirnya tiba di Nanga Kemangai, ibu kota kecamatan, pada pukul 17.23 WIB dalam keadaan selamat.

Docpri: Suasana dalam sampan 
Kegiatan KKG ini adalah bukti bahwa kompetensi guru tumbuh beriringan dengan keakraban dan penguatan akar budaya setempat. Terletak di penghujung sungai dengan medan yang ekstrem, SDN 26 Jengkarang justru menguji kesetiakawanan anggota gugus untuk menempuh perjalanan berat demi memberikan dukungan nyata sekaligus berbagi rasa perjuangan bersama guru di sana.

Kehadiran Pengawas Sekolah adalah wujud komitmen untuk merasakan langsung tantangan di lapangan, sekaligus meneguhkan tekad bersama bahwa perjuangan guru di pelosok dan peningkatan kualitas pendidikan adalah perhatian serius. 

Melalui KKG ini, kita berupaya membawa perubahan positif bagi SDN 26 Jengkarang dan memperkuat kualitas pengabdian seluruh guru di Gugus IV Batu Harimau.

Jonison, M.Pd. (Pengawas Sekolah Disdikbud Kabupaten Sintang)


Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url