Odon dan Tomalui Lahai



Di sebuah pedalaman hutan Kalimantan, hiduplah sebuah keluarga kecil suku Dayak Uut Danum di sebuah pondok sederhana di ladang. Pondok itu berdiri di tepi sungai kecil yang airnya jernih, dikelilingi pohon karet, rotan, dan suara burung enggang yang terbang setiap pagi.

Anak sulung keluarga itu bernama Odon. Umurnya baru dua belas tahun, tetapi sikapnya sudah seperti orang dewasa. Ia tinggal bersama ayah, ibu, dan dua adiknya, Uwin dan Jenggo, yang masih kecil. Ayah mereka bekerja di ladang menanam padi gunung, sedangkan ibu menenun tikar dan mencari sayur hutan.

Sebagai anak sulung, Odon merasa memiliki tanggung jawab besar menjaga kedua adiknya. Setiap pagi sebelum matahari muncul di balik bukit, ia membantu ayah mengambil air dan mencari kayu bakar. Setelah itu, ia menggendong Jenggo kecil sambil menemani Uwin bermain di halaman pondok.

Meski hidup sederhana, mereka selalu tertawa bersama. Pada malam hari, ayah sering bercerita tentang leluhur Dayak yang menjaga hutan dan sungai. Odon mendengarkan dengan penuh perhatian sambil memandangi api tungku yang menyala pelan. Dari cerita-cerita itulah Odon mulai mengenal adat, hutan, dan berbagai makhluk gaib yang dipercaya hidup berdampingan dengan manusia di tanah leluhur mereka.

***

Pagi itu embun masih menggantung di ujung daun ketika Odon terbangun dari tikar pandan di pondok ladang mereka. Dari dapur kecil terdengar suara ibu sedang mengaduk sesuatu di wajan besi tua. Aroma khas ubi goreng memenuhi ruangan.

“Odon, cepat cuci muka. Nanti terlambat sekolah,” panggil ibu lembut.

Odon segera bangun. Di sudut pondok, kedua adiknya, Uwin dan Jenggo, masih tertidur pulas sambil berpelukan. Ayah sudah lebih dulu pergi ke ladang membawa parang dan bakul rotan.

Di atas tungku kayu, ibu menyiapkan ohpuk, makanan sederhana kesukaan Odon. Ohpuk dibuat dari ubi jalar yang direndam beberapa hari hingga lembut dan sedikit asam. Setelah ditiris, ubi itu digongseng dengan sedikit minyak goreng sampai harum dan berwarna kecokelatan.

Meski sederhana, makanan itu selalu membuat perut kenyang sampai siang.

Ibu lalu mengambil selembar daun ihtik, daun lebar yang biasa dipakai untuk atap pondok ladang. Dengan cekatan ia membungkus ohpuk hangat itu lalu mengikatnya menggunakan serat rotan kecil.

“Nah, bekalmu,” kata ibu sambil menyerahkannya kepada Odon.

Odon menerima bungkusan itu dengan senyum kecil. Setelah mencium tangan ibunya, ia segera bersiap berangkat sekolah melewati jalan setapak di pinggir hutan bersama beberapa anak kampung lainnya.

***

Di sebuah kampung masyarakat Uut Danum yang dikelilingi hutan lebat dan aliran sungai yang jernih, musim berladang selalu menjadi waktu yang paling dinanti. Karena saat itulah semangat gotong royong dan adat budaya Dayak benar-benar hidup di tengah masyarakat.

Beberapa hari sebelum pesta nugal dimulai, warga kampung biasanya melaksanakan kegiatan yang disebut ngola ngohkap. Kegiatan ini adalah gotong royong membersihkan ladang setelah proses penebangan selesai dilakukan.

Sejak petang hari, masyarakat mulai berdatangan ke ladang milik tuan tanah. Ada yang membawa parang, kapak, dan obor. Suasana perlahan ramai oleh suara tawa dan percakapan warga yang saling membantu.

Mereka bekerja bersama-sama memanduk ladang: memotong ranting kayu, mengangkat batang-batang pohon, menumpuknya, lalu membakarnya agar lahan siap digunakan untuk menugal keesokan harinya. Asap tipis membubung ke langit malam, sementara cahaya api menyala di antara gelapnya hutan.

Kegiatan itu berlangsung hingga sekitar pukul dua belas malam. Walaupun lelah, wajah masyarakat tetap terlihat gembira. Bagi mereka, ngola ngohkap bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari kebersamaan dan persaudaraan.

Di sudut ladang, para perempuan sibuk menyiapkan makanan dan minuman. Ada singkong rebus, ikan salai, sayur hutan, dan tidak ketinggalan tuak, minuman tradisional masyarakat Uut Danum yang selalu hadir dalam acara kebersamaan.

Suara gelas bambu beradu terdengar sesekali diiringi tawa para pekerja ladang.

“Mudah-mudahan tahun ini panen kita bagus,” ujar seorang bapak sambil memandang api yang perlahan mengecil.

Setelah semua pekerjaan selesai, warga pun pulang untuk beristirahat. Malam kampung kembali sunyi karena esok pagi pesta nugal akan dilaksanakan.

Keesokan harinya, sejak matahari belum tinggi, masyarakat kembali berkumpul di ladang. Tuan ladang sudah mempersiapkan berbagai benih padi yang akan ditanam. Namun sebelum kegiatan nugal dimulai, terlebih dahulu dilakukan ritual adat yang disebut mohpas bolobat.

Ritual itu dipimpin oleh seorang tetua adat yang benar-benar memahami adat leluhur. Semua orang berdiri dengan tenang dan penuh hormat.

Mohpas berarti mengipas atau mengibas padi, sedangkan bolobat adalah susunan kayu-kayu pilihan yang dibuat sebagai sandaran tempat padi seperti karung, tempajang, dan takin.

Kayu-kayu itu tidak dipilih sembarangan. Tetua adat menyusunnya dengan hati-hati sambil mengucapkan doa-doa adat agar padi tumbuh subur dan dijauhkan dari hama maupun bencana.

Di sekitar bolobat, ditanam pula beberapa jenis tanaman dan kayu hutan yang memiliki makna simbolis bagi masyarakat Dayak, seperti sodirung, kajuk posik, tutup bongak, tebu, keladi, kajuk balou, dan serai.

Bagi masyarakat Uut Danum, semua itu bukan sekadar tanaman biasa. Setiap jenis memiliki makna perlindungan, harapan, dan keseimbangan hidup dengan alam.

Setelah ritual selesai, suasana ladang berubah ramai. Para lelaki mulai melubangi tanah menggunakan tongkat nugal, sementara para perempuan memasukkan benih padi ke dalam lubang-lubang kecil itu.

Suara saling bersahutan terdengar di seluruh ladang. Ada yang bercanda, ada yang bernyanyi pelan, dan ada pula anak-anak yang berlari di antara orang tua mereka.

Bagi masyarakat Dayak, nugal bukan hanya kegiatan menanam padi. Nugal adalah warisan budaya, tanda persatuan, dan bentuk penghormatan kepada alam yang telah memberi kehidupan sejak zaman nenek moyang.

Di tengah perkembangan zaman modern, tradisi itu masih tetap hidup di hati masyarakat. Sebab mereka percaya, selama adat dijaga dan budaya dihormati, maka jati diri Dayak tidak akan pernah hilang.

***

Odon dan Dua Canting Beras

Di musim merumput, sepulang sekolah Odon selalu membantu ibunya bekerja di ladang milik tetangga mereka. Walaupun tubuhnya masih kecil, Odon tidak pernah mengeluh. Ia tahu ibunya membutuhkan bantuan.

Sebagai upah, Odon mendapat dua canting beras setiap hari. Jika diuangkan, nilainya hanya sekitar Rp1.000. Sementara ibunya memperoleh lima canting beras atau sekitar Rp2.500. Meski tidak banyak, hasil itu sangat berarti bagi keluarga mereka.

Ayah Odon sedang pergi mencari gaharu bersama beberapa warga kampung. Mereka berangkat setelah musim nugal selesai dan baru akan pulang menjelang musim panen.

Sore hari, setelah pekerjaan selesai, Odon berjalan pulang sambil menggendong tengkalang berisi beras hasil upah kerja serta sayur-sayuran yang diberikan pemilik ladang. Di sampingnya, ibunya menggendong adik kecil mereka, Jenggo, sambil menuntun Uwin berjalan perlahan melewati jalan setapak.

Walaupun hidup mereka sederhana dan penuh kesulitan, Odon merasa bahagia dapat membantu keluarganya.

***

Durian dan Ponyoke

Musim buah hutan akhirnya tiba. Pohon-pohon di rimba mulai dipenuhi buah matang. Ada durian, cempedak, langsat hutan, aci, darak, tokuhou, dan rambutan. Aroma harum buah-buahan menyebar sampai ke pondok-pondok warga.

Pagi itu, Odon bersama adiknya, Uwin, pergi ke hutan mencari durian. Udara masih sejuk dan embun belum sepenuhnya hilang dari daun-daun besar di sepanjang jalan setapak. Burung-burung berkicau riang mengiringi langkah mereka.

“Bang, semoga hari ini banyak duriannya,” kata Uwin sambil membawa keranjang rotan kecil.

Odon tersenyum. “Kalau rezeki kita bagus, bisa penuh keranjang ini.”

Benar saja, tidak lama kemudian mereka menemukan beberapa durian jatuh di bawah pohon besar. Bunyi “buk!” terdengar berkali-kali dari kejauhan. Mereka berdua berlari sambil tertawa gembira.

“Banyak sekali, Bang!” seru Uwin.

Hingga siang hari, durian yang mereka kumpulkan semakin banyak. Karena tidak mungkin dibawa sekaligus, Odon membuat dua tumpukan besar di dekat pohon tua.

“Dek, sebaiknya kita kumpulkan dan tumpuk saja dulu. Nanti sore kita bawa,” kata Odon kepada adiknya.

“Baik, Bang. Nanti kita ajak bapak yang bawa,” jawab Uwin dengan semangat.

Setelah selesai mengumpulkan durian, mereka pun pulang ke pondok.

Sesampainya di rumah, Uwin langsung bercerita kepada bapaknya.

“Pak… banyaaaak durian kami sama abang tumpukan tadi!” katanya girang.

Bapaknya tertawa kecil. “Iya, nanti sore kita ambil bersama.”

Malam harinya, sebagian durian dibuka untuk dibuat tempoyak. Daging durian dimasukkan ke dalam jirigen besar, lalu diberi sedikit garam. Sebelum disimpan, durian itu terlebih dahulu ditiriskan menggunakan karung agar airnya berkurang.

Aroma tempoyak mulai tercium di dalam pondok. Di luar, malam semakin gelap dan suara hutan terdengar jelas. Angin dingin berhembus perlahan dari arah bukit.

Tiba-tiba terdengar suara ranting patah dari belakang pondok.

Krek… krek…

Odon menoleh ke arah gelap hutan. Di antara bayangan pepohonan, tampak sosok tinggi kurus berdiri diam. Kukunya panjang dan matanya berkilat terkena cahaya api dapur.

“Itu… ponyoke…” bisik Uwin ketakutan.

Makhluk itu dipercaya suka datang saat musim buah hutan matang. Konon, ponyoke sering mengendap-endap mencari durian dan mengganggu orang yang serakah mengambil buah hutan.

Bapak segera mengambil kayu bakar lalu mengetuk lantai pondok tiga kali.

Tok! Tok! Tok!

“Pergilah! Ini rezeki untuk keluarga kami, bukan untuk pengganggu malam!” serunya tegas.

Sosok ponyoke itu diam beberapa saat. Angin tiba-tiba bertiup lebih dingin. Lalu perlahan makhluk itu mundur masuk kembali ke dalam gelap hutan.

Uwin memeluk abangnya lega.

Malam itu mereka duduk dekat api sambil menjaga tempoyak dan mendengar suara hutan sampai akhirnya tertidur dengan aman.

***

Kedatangan Tomalui Lahai

Malam itu udara terasa dingin di pondok kecil milik Odon sekeluarga. Setelah makan malam dengan lauk ikan bakar dan udang sungai hasil tangkapan ayahnya, mereka duduk santai di depan tungku api yang mulai mengecil. Pondok mereka berdiri di antara dua muara sungai kecil. Tidak jauh dari sana terdengar gemuruh dua air terjun yang mengalir tanpa henti, menambah suasana sunyi dan menyeramkan.

Di malam itu, kakek dan nenek Odon sedang hiloi di pondok mereka. Angin malam berhembus pelan melewati celah dinding kayu. Tiba-tiba terdengar suara tawa kecil.

“Hik… hik… hik…”

Suara itu lirih, tetapi membuat bulu kuduk berdiri. Odon memandang kedua adiknya yang mulai merapat ketakutan kepada ibu mereka.

“Ayah… suara apa itu?” bisik Odon pelan.

Ayah hanya diam. Wajahnya terlihat tegang.

Suara tawa itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas dan semakin dekat, seperti mengikuti aliran sungai menuju pondok mereka.

“Hik… hik… hik…”

Semua orang tahu suara itu bukan suara manusia biasa. Itu adalah Tomalui Lahai, makhluk gaib yang sering diceritakan orang-orang tua kepada anak-anak di kampung. Konon, makhluk itu suka muncul di sekitar sungai atau pondok terpencil pada malam hari untuk mengganggu manusia yang sedang lengah.

Suasana pondok mendadak sunyi. Hanya suara air terjun dan desir angin malam yang terdengar jelas di antara rasa takut yang mulai menyelimuti mereka.

Suara tomalui lahai itu semakin dekat dan semakin jelas. Anak anjing yang semula menggonggong keras tiba-tiba berhenti. Wajah Odon dan adik-adiknya pucat melihat suasana yang mencekam itu. Akan tetapi, kakek Odon tetap tenang. Kakek duduk bersila membaca mantra pelindung sambil menghadap ke setiap sudut pondok.

Mantra itu diucapkannya berulang-ulang dengan suara berat dan penuh keyakinan. Angin malam mendadak bertiup lebih kencang, seolah ada sesuatu yang sedang mengitari pondok mereka.

“Hik... hik... hik...”

Suara itu terdengar sekali lagi, tetapi perlahan mulai menjauh. Anak anjing itu pun mulai berani keluar dari persembunyiannya. Suasana kembali tenang.

Kakek Odon menghela napas panjang. “Syukurlah, tomalui lahai itu sudah pergi,” katanya pelan.

Mereka akhirnya dapat bertahan sampai pagi hari dengan selamat. Ketika matahari terbit dan cahaya mulai menerangi hutan, rasa takut yang semalam menyelimuti pondok itu perlahan menghilang.

***

Sumber: OpenAI Image Generation, 2026

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url