Kiham Moruan Asuk
Pada zaman dahulu, di penghujung Sungai Ambalau, wilayah Ambalau, hiduplah seorang laki-laki yang dikenal gagah dan perkasa. Tubuhnya kuat dan tenaganya besar. Ia tinggal bersama istrinya di sebuah kampung kecil yang berada dekat sungai dan hutan. Kehidupan mereka berjalan sederhana di tengah alam yang masih lebat dan tenang.
Suatu malam, lelaki itu duduk berbincang dengan istrinya yang baru saja melahirkan seorang anak. Api pelita menyala redup di dalam rumah kayu mereka, sementara suara aliran sungai terdengar pelan memecah kesunyian malam. Dalam suasana tenang itu, lelaki tersebut berkata kepada istrinya, “Besok pagi aku mau membuat lesung di seberang sungai.” Istrinya hanya mengangguk pelan sambil menggendong bayi mereka.
Pagi hari tiba ketika kabut masih menggantung di atas sungai. Lelaki itu pergi membawa beliung menuju seberang sungai untuk menebang kayu besar yang akan dijadikan lesung. Ia bekerja sejak pagi hingga matahari semakin tinggi. Suara burung-burung kecil terdengar dari atas pepohonan, menemani pekerjaannya di tengah hutan. Menjelang tengah hari, saat sedang membelah kayu, tiba-tiba beliung yang digunakannya patah.
Lelaki itu terdiam sesaat, lalu berjalan mendekati tepi sungai dan memanggil istrinya dari kejauhan. “Istriku… antarkan beliung yang lain!” serunya. Sang istri mendengar panggilan tersebut, tetapi ia harus menjaga bayi mereka yang masih kecil. Karena itu, ia mengikat beliung pengganti di belakang seekor anjing peliharaan mereka. “Asuk… pergilah ke tuanmu,” katanya pelan kepada anjing itu.
Anjing tersebut segera berenang menyeberangi sungai sambil membawa beliung di punggungnya. Arus sungai saat itu cukup deras, tetapi anjing itu terus berenang hingga berhasil tiba di seberang. Ketika lelaki tersebut melepaskan ikatan beliung dari tubuh anjing, tiba-tiba langit berubah gelap. Angin bertiup sangat kencang, petir menyambar, dan guruh menggelegar memecah hutan serta sungai. Hujan turun dengan sangat deras hingga air sungai bergolak besar seperti sedang marah.
Dalam waktu singkat, tanah, batu, dan aliran sungai berubah bentuk. Pohon-pohon tumbang, sementara suara air mengaum di antara batu-batu besar. Setelah hujan reda, tempat itu telah berubah menjadi sebuah riam yang besar dan deras. Masyarakat kampung percaya bahwa peristiwa tersebut bukan kejadian biasa. Mereka kemudian menamai tempat itu sebagai Kiham Moruan Asuk, yang berarti riam yang berkaitan dengan pengorbanan seekor anjing.
Sampai sekarang, riam tersebut masih dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai bagian dari cerita lama yang diwariskan secara turun-temurun di tepian Sungai Ambalau. Kisah ini menjadi bagian dari warisan lisan masyarakat Dayak yang terus dikenang sebagai penanda hubungan manusia, alam, dan kepercayaan leluhur di masa lampau.
