Pomadik Tanom: Teguran Halus dari Tanah Makam

Docpri: Komplek pemakaman keluarga Ban Imang di Bahtuk Nyandung Kec. Ambalau

Bagi masyarakat Dayak Uut Danum, tubuh yang sakit terkadang bukan sekadar urusan biologis, melainkan sebuah sinyal halus dari alam lain yang meminta untuk didengar. Ini adalah catatan tentang bagaimana sebuah raga dilemahkan demi menuntun langkah kembali pada bakti leluhur.

Tubuh yang Lelah dan Misteri Rasa Sakit

Semua bermula dari serangkaian kegiatan yang cukup menguras energi dan fisik saya belakangan ini. Sebagai manusia biasa, tubuh saya akhirnya protes.

Awalnya, sebuah rasa sakit yang mencekam muncul di bagian kepala belakang. Dugaan pertama saya sangat logis. Ini pasti akibat kurang tidur. Karena curiga tekanan darah saya naik, saya segera meminum obat tensi yang biasa saya konsumsi.

Namun, denyut di kepala itu belum juga reda. Saya kemudian mencoba meminum ramuan herbal untuk membantu menenangkan tubuh, tetapi hasilnya pun sama.

Rasa penasaran membawa saya ke apotek terdekat untuk memeriksa kadar kolesterol. Jangan-jangan itulah biang keladinya. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan semuanya normal. Obat medis telah memastikan bahwa organ tubuh saya dalam kondisi yang baik.

Lalu saya menduga mungkin asam lambung saya sedang naik. Beberapa jenis obat maag pun sempat saya minum.

Baca juga : “Ritual Nicak Korabuk”: Makna dan Pelaksanaan Setelah Mengantar Jenazah

Mencoba tidak manja pada keadaan, saya memaksakan diri melakukan aktivitas ringan agar keringat keluar. Anehnya, rasa sakit ini justru mulai "berjalan".

Sakit di kepala belakang berpindah ke sebelah kiri, lalu bergeser ke kanan. Tidak lama setelah itu, giliran pinggang saya yang didera rasa nyeri yang hebat, sebelum akhirnya berpindah lagi ke perut bagian kiri.

Beberapa antibiotik saya konsumsi untuk mengantisipasi adanya peradangan di dalam tubuh, tetapi nyeri pinggang itu tetap setia mendekam.

Di tengah rasa frustrasi itu, sempat terlintas ketakutan, jangan-jangan ini adalah gejala urat kejepit, sebuah dugaan yang buru-buru saya lupakan. Tubuh saya seperti sedang menyuarakan sesuatu yang tidak bisa dibaca oleh diagnosis medis biasa.

Suara dari Keheningan Malam

Titik balik itu datang di sebuah malam setelah saya menghadiri acara pelepasan siswa kelas VI di salah satu sekolah. Rasa lelah yang bertumpuk membuat saya tertidur sangat pulas.

Dalam keheningan malam itulah sebuah mimpi hadir. Saya berjumpa dengan almarhum kakak perempuan saya yang telah berpulang sekitar sembilan tahun lalu.

Di dalam dimensi tidur itu, beliau menatap saya dan menyampaikan sebuah keinginan sederhana. Beliau ingin makan sayur daun ubi rebus yang tangkainya berwarna merah. Dalam bahasa Dayak Uut Danum disebut sokahkau daun bodoroh.

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, saya mendadak terbangun. Suasana kamar hening, tetapi pesan itu tertinggal amat jelas di kepala saya.

Keesokan harinya, misteri mimpi itu saya ceritakan kepada istri. Sebagai sesama orang yang hidup dalam tradisi, istri saya langsung menangkap maknanya.

Beliau menafsirkan bahwa almarhum kakak sedang "memanggil". Sudah saatnya kami berziarah ke makam beliau sekaligus mengantarkan ukun ponguman (sesajen) untuk memenuhi permintaannya.

Namun, niat baik itu harus berkejaran dengan realitas. Kondisi fisik saya belum sepenuhnya fit, sementara tanggung jawab pekerjaan sudah menanti.

Saya harus melanjutkan perjalanan dinas ke beberapa sekolah di ujung Sungai Melawi untuk melakukan monitoring dan evaluasi (monev) ulangan siswa kelas I sampai kelas V SD. Tugas mengawal masa depan anak-anak di pedalaman itu membuat rencana ziarah terpaksa kami tunda sejenak.

Keajaiban di Bahtuk Nyandung

Seminggu berlalu. Tugas dinas selesai dan kondisi saya sedikit membaik. Saya dan istri sepakat bahwa hari itu adalah waktu yang tepat untuk berangkat.

Istri saya, dengan ketelatenannya, menyiapkan segala keperluan ukun ponguman. Sebagai pendamping hidup, ia tahu betul apa saja yang digemari almarhum kakak semasa hidupnya.

Kami bertolak menuju kompleks pemakaman keluarga Ban Imang yang terletak di Bahtuk Nyandung, Kecamatan Ambalau.

Setibanya di tanah yang sakral itu, kami bersila dan memanjatkan doa. Satu per satu makam keluarga kami datangi, meletakkan ukun ponguman sebagai tanda hormat dan pengingat bahwa mereka yang telah tiada tetap hidup dalam ingatan kami.

Ketika langkah kami tiba di makam almarhum kakak yang hadir dalam mimpi seminggu sebelumnya, mata saya tertuju pada atap perumahan kuburannya. Talang air di atasnya ternyata bocor sehingga air menetes ke atas makam.

Dengan kondisi pinggang yang masih kaku, saya mencoba memperbaiki kebocoran itu perlahan-lahan.

Tidak hanya itu, tiang salib kayu ulin di makamnya ternyata telah ditutupi oleh sarang somorohtoi (seragga).

Bersama istri, kami membersihkan serangga-serangga itu, mencabut rumput liar, dan menyingkirkan segala sampah yang mengotori peristirahatan terakhirnya. Rumahnya di alam sana kini kembali bersih dan teduh.

Sebelum melangkah pulang, kami singgah sejenak di makam kedua orang tua kami untuk berdoa.

Sungguh, sebuah momen yang sulit dinalar oleh logika medis terjadi begitu doa selesai.

Saat saya menggerakkan badan untuk berdiri dan bersiap melangkah pulang, rasa nyeri yang menusuk pinggang selama berminggu-minggu itu mendadak hilang tanpa bekas.

Saya mencoba membungkuk, berputar, dan berjalan. Semuanya terasa ringan. Bebas. Seperti ada beban gaib yang baru saja diangkat dari tubuh saya.

Di Bahtuk Nyandung hari itu, saya menyaksikan sendiri bagaimana ikatan darah dan tradisi Uut Danum bekerja menyembuhkan raga melalui kedamaian jiwa.

Pesan Tersembunyi dari Balik Makam

Sekembalinya dari Bahtuk Nyandung, peristiwa yang saya alami ini saya ceritakan kepada beberapa orang kenalan. Dari obrolan itulah sebuah pemahaman baru terbuka.

Mereka mengatakan bahwa rasa sakit yang berpindah-pindah dan sempat menyiksa raga saya itu, dalam tradisi kami, disebut sebagai pomadik tanom, sebuah tanda atau "teguran" halus dari tanah makam.

Saya pun mencoba merajut kembali benang merah antara sakit tersebut dengan mimpi di malam sunyi itu, saat almarhum kakak meminta dibuatkan sayur sokahkau daun bodoroh.

"Itu sebenarnya cara beliau agar kamu datang berkunjung ke makam dan melihat langsung kondisinya di sana," jelas Paman.

Seketika itu juga, kesadaran saya terhentak. Roh orang-orang yang telah mendahului kita ternyata memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan pesan secara tidak langsung.

Mereka tidak meminta dengan paksa, melainkan mengetuk pintu kesadaran kita melalui raga yang dilemahkan sejenak.

Paman kemudian menambahkan,

"Coba kalau kamu tidak mengantarkan sayuran itu, kamu tidak akan pernah tahu kalau talang air di atas perumahan kuburannya bocor, dan tiang salibnya sudah dikerumuni serangga."

Merawat Kasih yang Tak Pernah Usai

Lewat tulisan ini, sama sekali tidak ada niat di hati saya untuk mengecilkan peran dunia kedokteran atau mendiskriminasi manfaat obat-obatan medis. Obat-obatan tetaplah sarana utama yang mendasar bagi kesehatan fisik kita.

Begitu pula dalam hal spiritual, kisah ini sama sekali tidak bermaksud mengabaikan atau mencederai nilai iman dan kepercayaan kepada Tuhan.

Namun, kisah ini hadir sebagai sebuah pengingat kemanusiaan yang sederhana.

Meskipun raga mereka telah menyatu dengan tanah dan hanya menyisakan sebuah nisan, sudah menjadi kewajiban suci bagi kita yang masih bernapas untuk tetap merawatnya.

Berziarah dan membersihkan makam keluarga tidak semestinya kita batasi hanya pada momen-momen tertentu, seperti saat Natal, Paskah, atau Hari Peringatan Arwah bagi umat Kristiani.

Selama kaki masih mampu melangkah dan waktu masih berpihak, luangkanlah waktu kapan pun kita sempat.

Karena dengan merawat rumah terakhir mereka, sesungguhnya kita sedang merawat ikatan kasih yang tidak akan pernah diputuskan oleh kematian.***

Penulis : Jonison

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url