Songumang Noon Bubuk: Sepenggal Catatan Sastra Lisan PGD 2026

Docpri : Foto bersama Camat Ambalau, Ketua DAD Kec. Ambalau, Tim Juri dan Anggota Kontingen usai pengumuman pemenang lomba
Literasiuuddanum.com-Rumah Betang Jerora 1 Sintang menjadi pusat kemeriahan Pekan Gawai Dayak (PGD) ke-13 Kabupaten Sintang yang digelar pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026. 

Di tengah gelora musik khas Dayak dan warna-warni busana adat para pengunjung, saya berkesempatan ambil bagian sebagai anggota Kontingen Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Ambalau.

Atas kepercayaan dari Ketua DAD Ambalau, Ibu Veronika Unon, S.Keb., M.A.P., saya terdaftar sebagai peserta cabang lomba sastra lisan kategori dewasa. 

Melimpahnya khazanah cerita rakyat, legenda, dan tradisi leluhur masyarakat Uud Danum sempat membuat  bingung dalam menentukan pilihan judul. Namun, setelah melalui pertimbangan matang, saya menetapkan tuturan bertajuk Songumang Noon Bubuk (Songumang Memasang Bubu).

Cerita rakyat ini mengisahkan tentang bakti, kerendahan hati, kepatuhan, dan hubungan manusia dengan alam. Diharapkan pesan moral dan nilai-nilai yang terkandung dalam kisah ini terus hidup dan menjadi suluh dalam melangkah dari generasi ke generasi

Agar cerita lebih hidup dan mudah dipahami oleh juri serta penonton, disiapkan properti miniatur sebuah bubu. 

Dibuat secara mendadak pada malam sebelum lomba memanfaatkan kardus bekas,  pengerjaannya memakan waktu sekitar dua jam. Proses tersebut terbilang lancar sebab dituntun oleh kenangan masa kecil yang masih tersimpan dengan baik saat diajari sang ibu membuat bubu.

Sebenarnya bisa saja membeli atau menyewa di gallery souvenir, tetapi harga di gallery cukup menguras dompet. Membeli barang jadi kurang mencerminkan nilai kreativitas. Keputusan untuk membuat properti secara mandiri pun menjadi pilihan terbaik yang memberikan kepuasan tersendiri.

Perlombaan berlangsung pada Jumat, 31 Juli 2026, dan saya mendapat nomor urut pertama. Langkah kaki diayunkan ke atas panggung berbalut busana khas Dayak, rompi merah bermotif manik-manik penutup kepala merah, serta sehelai bulu enggang yang terselip di kepala. Di tangan kanan menenteng sebuah miniatur bubu.

Jujur, saya tampil dengan sedikit rasa sungkan dan canggung. Bukan karena demam panggung, melainkan rasa hormat yang mendalam bahwa saya sedang membawakan tuturan leluhur yang amat bernilai, sementara diri ini merasa belum seberapa. 

Namun, berkat dorongan penuh dari rekan yang peduli budaya dan sastra serta kehadiran istri tercinta yang selalu setia mendampingi, rasa ragu itu perlahan sirna. Langkah kaki di atas panggung gawai berubah menjadi mantap dan penuh keyakinan. Saya memegang teguh satu prinsip tampil adalah sebuah kesempatan, sedangkan juara hanyalah bonus.

Tampil di atas panggung bukan sekadar upaya memperebutkan gelar kejuaraan, melainkan sebuah amanah untuk merawat tradisi. Ini adalah wujud komitmen untuk mengalunkan kembali bait-bait kisah leluhur yang sarat pesan moral, sekaligus membumikan identitas Dayak Uud Danum dari Kecamatan Ambalau di panggung tingkat kabupaten.

Pengumuman pemenang adalah saat yang ditunggu-tunggu. Suasana sungguh mendebarkan karena harus bersaing dengan para peserta utusan DAD dari kecamatan lainnya, yang masing-masing memiliki rekam jejak dan kemampuan tutur yang sangat mumpuni.

Tiga orang juri naik ke atas panggung bersiap membacakan hasil perlombaan. Jantung berdegup kencang. Saat juara ketiga diumumkan, yang dipanggil adalah nama peserta lain. 

Ketegangan semakin memuncak di dada. Hingga akhirnya, suara lantang salah satu juri memecah keheningan melalui pelantang suara,

"Selanjutnya, juara dua diraih oleh peserta dengan nomor undian satu, atas nama Jonison, perwakilan DAD Kecamatan Ambalau!"

Gemuruh tepuk tangan dari penonton dan rekan-rekan yang menyaksikan di belakang panggung langsung menggema riuh. Sungguh sebuah kejutan yang luar biasa. Seakan berada di antara rasa yakin dan tidak percaya. Namun, di atas segalanya, pencapaian ini adalah hal yang teramat patut untuk disyukuri.

Sebuah piala, selembar piagam penghargaan, dan sebuah amplop putih berisi uang pembinaan menjadi saksi sekaligus bukti nyata bahwa hasil tidak pernah mengkhianati proses. 

Demikian sepenggal kisah perjalanan dalam merawat tradisi di atas panggung Pekan Gawai Dayak Kabupaten Sintang tahun 2026.

***

Penulis : Jonison



Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url