Nubok: Memohon Hujan, Merawat Kebersamaan
![]() |
| Warga sedang menunggu ikan-ikan mabuk (nohuk tubok) di Toluk Kolopo |
Bahtang danum (sungai) yang menjadi urat nadi kehidupan pun ikut berubah. Alirannya yang semula deras dan lebar menjadi lambat, bahkan nyaris tak berisik. Di sejumlah tempat, air hanya tersisa dalam genangan-genangan yang terisolasi di dalam bolohuk (lubuk/teluk).
Di tengah kepungan krisis seperti itu, muncul sebuah pertanyaan mendasar, apa yang dapat dilakukan oleh makhluk hidup ketika bumi kian merana? Apakah hanya menunggu, menunggu, dan menunggu? Atau menuding ke sana kemari mencari "kambing hitam"?
Jauh sebelum era modern nenek moyang Suku Dayak Uud Danum telah memiliki cara pandang tersendiri dalam memaknai alam, kekeringan, sekaligus bagaimana manusia harus menyikapinya. Salah satu warisan itu dikenal dengan nama nubok
Nubok dan Cara Leluhur Memaknai Kemarau
Menuba, atau dalam bahasa Dayak Uud Danum disebut Nubok, adalah kegiatan menangkap ikan secara bersama-sama di sungai atau aliran air dengan menggunakan bahan alami tertentu.
Bahan tersebut berasal dari tumbuhan khusus, yaitu akar tuba (derris elliptica). Akar tuba terlebih dahulu dipukul-pukul hingga mengeluarkan cairan pekat berwarna putih. Cairan inilah yang kemudian digunakan dalam proses menuba.
Kemarau panjang justru menjadi kondisi yang dianggap ideal untuk melaksanakan tradisi ini. Ketika debit sungai menyusut drastis, air menjadi lebih tenang dan ikan-ikan banyak terkonsentrasi di bolohuk atau kubangan air yang dalam. Dalam kondisi demikian, cairan tuba tidak terlalu cepat hanyut terbawa arus deras sehingga dapat bekerja dengan lebih efektif.
Menuba di bahtang danum (sungai utama) tidak semata-mata berbicara tentang bagaimana mendapatkan ikan. Di balik aktivitas tersebut terdapat cara pandang leluhur terhadap sungai, makhluk hidup yang menghuninya, serta hubungan manusia dengan kekuatan alam yang mereka yakini ada di dalamnya.
Lobahtak, Sang Penjaga Sungai
Bagi masyarakat Dayak Uud Danum pada masa lampau, palung sungai, terutama lubuk-lubuk yang paling dalam, bukanlah ruang kosong tanpa penghuni. Konon, di sanalah bersemayam Lobahtak (Naga Air), sosok yang diyakini sebagai penunggu sungai.
Ikan-ikan dan seluruh biota air pun tidak semata-mata dipandang sebagai hasil tangkapan liar. Dalam keyakinan masyarakat dahulu, ikan-ikan tersebut merupakan hewan ternak yang dipelihara oleh Lobahtak.
Sebagaimana manusia memelihara manuk (ayam), urak (babi), asuk (anjing), pusak (kucing), dan hewan lainnya di sekitar rumah, demikian pula Lobahtak diyakini memperlakukan ikan-ikan yang hidup di sungai. Mereka dijaga, dirawat, dan dilindungi oleh sang penghuni dasar air.
Cara pandang semacam ini menunjukkan bagaimana masyarakat dahulu memandang alam dengan penuh misteri sekaligus kearifan. Sungai bukan hanya tempat mengambil air dan ikan, tetapi juga ruang kehidupan yang memiliki penghuni, aturan, dan hubungan yang harus dihormati.
Dari keyakinan itulah muncul dimensi spiritual dalam tradisi menuba. Menuba dipercaya sebagai salah satu cara untuk memohon datangnya hujan.
Nubok sebagai Ritual Memohon Hujan
Lalu, mengapa menuba dikaitkan dengan hujan?
Logika kultural masyarakat dahulu berpijak pada keyakinan yang sederhana. Ketika menuba dilakukan, sebagian ikan akan mabuk akibat cairan tuba sehingga mudah ditangkap oleh warga. Karena, ikan-ikan tersebut merupakan hewan peliharaan Lobahtak, tentu sang penunggu sungai tidak akan membiarkan seluruh ternaknya musnah.
Demi menyelamatkan hewan peliharaannya agar tidak habis, Lobahtak diyakini akan segera menurunkan hujan. Air sungai pun kembali pasang dan ikan-ikan yang tersisa dapat diselamatkan.
Demikianlah esensi magis dan harapan yang berada di balik tradisi menuba pada masa lampau. Menuba bukan hanya ikhtiar manusia untuk memperoleh lauk di musim kemarau, tetapi menjadi bagian dari cara leluhur berkomunikasi dengan alam dan memohon agar hujan segera turun menyirami bumi.
Ritual Sakral dan Malam Persiapan
Karena memiliki dimensi spiritual dan adat, menuba tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Rangkaian kegiatan diawali dengan ritual adat sebagai bentuk penghormatan sekaligus permohonan izin.
Akar-akar tuba yang telah dikumpulkan terlebih dahulu disatukan di suatu tempat dan dibiarkan semalam. Malam persiapan tersebut menjadi waktu bagi para tetua adat untuk berkumpul dan ngolimoi (bertutur)
Dalam kolimoi itulah maksud pelaksanaan menuba disampaikan. Tetua memohon izin kepada alam dan kepada penunggu sungai agar kegiatan yang akan dilakukan berjalan sebagaimana mestinya.
Dengan demikian, sejak awal menuba telah menempatkan manusia bukan sebagai penguasa alam, melainkan sebagai bagian dari alam yang harus meminta izin sebelum mengambil sesuatu darinya.
Pamali dan Beban Adat
Kesakralan tradisi menuba tercermin dari berbagai kopalik (pamali) yang wajib dipatuhi. Masyarakat percaya bahwa apabila pamali tersebut dilanggar, air tuba dapat menjadi tawar dan ritual kehilangan tuahnya.
Beberapa pantangan yang berlaku antara lain larangan menangkap ikan dengan cara pomolong (diparang), ngolucak danum (meludahi air sungai), tidak boleh berbicara sembarangan selama proses berlangsung. Perempuan yang sedang haid dan warga yang mengalami boringan (luka fisik) dilarang turun ke sungai.
Di tengah ketatnya pantangan tersebut, maka ditunjuk secara khusus satu orang untuk menanggung berbagai pantangan tertentu. Ada beban spiritual yang tidak semua orang sanggup melaksanakannya, sehingga tanggung jawab tersebut dipercayakan kepada orang yang dianggap mampu.
Aturan-aturan itu menunjukkan bahwa menuba bukan sekadar aktivitas menangkap ikan. Ada tata cara, batasan, serta tanggung jawab yang mengikat setiap orang yang terlibat.
Dari Hulu Lubuk hingga Pembagian Hasil
Setelah seluruh persiapan adat selesai, barulah proses menuba dilakukan.
Tidak sembarang alat tangkapan boleh digunakan. Peralatan yang diizinkan terbatas pada pasai, kabeu, sopahkang, dan duhuk.
Akar tuba ditumbuk hingga mengeluarkan cairan putih pekat. Perasan tersebut kemudian dikumpulkan ke dalam beberapa buah sampan. Setelah semuanya siap, sampan-sampan dikayuh menuju bagian hulu lubuk dan beberapa titik strategis lainnya.
Warga sedang ngolang tubok (memeras tuba)
Perasan tuba kemudian ditumpahkan ke dalam air agar menyebar ke segala penjuru. Perlahan-lahan ikan-ikan besar mulai mabuk dan naik ke permukaan. Saat itulah warga bersama-sama menangkap ikan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
Yang paling menarik dari seluruh rangkaian menuba justru terjadi setelah ikan berhasil ditangkap yaitu pembagian hasil.
Ikan-ikan hasil tangkapan dibagikan kepada setiap orang yang hadir tanpa terkecuali, sekecil apa pun bagian yang diperoleh. Bahkan kepala keluarga yang berhalangan hadir tetap mendapatkan jatahnya.
Tidak ada kepala keluarga yang terlewati. Tidak ada pula istilah jual beli dalam pembagian hasil tangkapan tersebut.
Di sinilah menuba memperlihatkan wajahnya sebagai tradisi yang bukan hanya mengajarkan cara memperoleh makanan, tetapi lebih pada cara berbagi. Hasil sungai menjadi milik bersama, dan kebersamaan itu tidak diukur dari seberapa besar seseorang terlibat secara fisik dalam kegiatan.
Menuba sebagai Ruang Kebersamaan
Nubok pada akhirnya bukan sekadar kegiatan mencari lauk. Nubok merupakan ruang kebersamaan yang mempererat ikatan sosial dalam satu kampung.
Musyawarah, mencari bahan tuba ke hutan, mempersiapkan peralatan, melaksanakan kegiatan di sungai, hingga membagi hasil dilakukan secara gotong royong. Semua orang memiliki tempat dan peran di dalamnya.
Kemampuan masyarakat merawat tradisi sekaligus menjaga keharmonisan melalui kegiatan positif seperti ini pada akhirnya membawa nama baik dan mengharumkan kampung. Kehormatan semacam itu biasa disebut sebagai tarung/botarung.
Yang tidak kalah penting, masyarakat pada masa dahulu menggunakan bahan-bahan alami dalam pelaksanaan menuba. Penggunaan tubok dipercaya hanya membuat ikan-ikan besar mabuk sementara, sementara ikan kecil atau biota lainnya tetap aman. Dengan bahan yang berasal dari alam, sungai pun tetap terjaga dari zat-zat asing yang dapat merusak keseimbangannya.
Dengan cara tersebut, leluhur memperlihatkan satu prinsip penting dalam mengambil hasil dari alam tidak berarti harus merusak alam itu sendiri.
Warisan Leluhur di Tengah Perubahan Zaman
Melalui nubok, leluhur Suku Dayak Uud Danum sesungguhnya telah meninggalkan lebih dari sekadar sebuah cara menangkap ikan. Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang bagaimana manusia bertahan hidup dan beradaptasi di tengah kekeringan. Keyakinan spiritual tentang hubungan manusia dengan alam, aturan adat yang mengikat, semangat gotong royong, serta nilai keadilan dalam berbagi hasil.
Zaman terus berubah
Di tengah arus modernisasi, muncul pertanyaan mendasar, bagaimana tradisi menuba dijalankan saat ini?
Apakah nilai-nilai kearifan, penghormatan terhadap alam, dan solidaritas sosial yang dahulu menjadi jiwa menuba masih mengakar kuat? Ataukah menuba kini perlahan bergeser menjadi sekadar tontonan, hiburan, konten media sosial, atau kegiatan seremonial, sementara makna dan nilai yang diwariskan leluhur mulai kehilangan tempatnya?
Entahlah…??
Waktu dan komitmen masyarakatlah yang pada akhirnya akan menentukan jawabannya.
Yang pasti, sebuah warisan leluhur tidak akan pernah benar-benar kehilangan nyawanya selama manusia tidak memperlakukannya sebagai masa lalu yang asing.
Tradisi justru dapat menjadi cermin untuk melihat kembali siapa kita, bagaimana leluhur memperlakukan alam, dan bagaimana manusia seharusnya hidup bersama sesamanya.
Menuba mengajarkan bahwa di tengah kemarau sekalipun, manusia tidak hanya membutuhkan air dan makanan untuk bertahan hidup tetapi manusia membutuhkan kebersamaan, keyakinan, aturan, dan rasa hormat kepada alam.
Di situlah sesungguhnya warisan leluhur menemukan maknanya bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dipahami dan dijadikan pijakan dalam merawat bumi dan sesama.***
Narasumber: Petrus Simon dan Juris
Penulis: Jonison
