Menuba: Tradisi Unik Warisan Leluhur di Tengah Kemarau Panjang
Literasiuuddanmum.com-Musim kemarau yang berkepanjangan kini menjadi momok yang menakutkan bagi setiap makhluk hidup. Debit air menyusut drastis, mata air perlahan mengering, dan sumber air bersih menjadi begitu jauh.
Sungai yang dulunya menjadi urat nadi kehidupan kini mengering, menyisakan genangan-genangan air di dalam lubuk atau teluk yang terisolasi. Aliran yang semula deras dan lebar pun berubah menjadi lambat yang nyaris tak berisik. Tanaman tumbuh kerdil gagal berkembang, sementara karhutla (kebakaran hutan dan lahan) mengintai membawa kabut asap pekat yang mengancam kesehatan manusia.
Di tengah kepungan krisis ini, sebuah pertanyaan mendasar pun muncul, apa yang bisa dilakukan oleh makhluk di bumi yang kian merana? Apakah hanya menunggu, menunggu dan menunggu?
Jauh sebelum era modern, nenek moyang Suku Dayak Uud Danum memiliki cara pandang yang unik dalam memaknai alam, kekeringan, sekaligus cara menyikapinya.
Makna dan Latar Belakang Tradisi Menuba
Di tengah teriknya kemarau, masyarakat mengenal tradisi Menuba. Kegiatan ini pada dasarnya adalah cara menangkap ikan secara bersama-sama di sungai atau aliran air menggunakan bahan alami tertentu (tubok), yang diambil dari akar tumbuhan khusus seperti akar tuba. Akar tuba di pukul-pukul sampai mengeluarkan air yang berwarna putih.
Kondisi kemarau panjang sangat ideal untuk pelaksanaan tradisi ini karena debit air sungai menyusut drastis, sehingga air menjadi lebih tenang atau terisolasi di dalam lubuk (kubangan air dalam). Dengan kondisi air yang tenang, konsentrasi getah tuba tidak terlalu cepat hanyut terbawa arus deras.
Penjaga Sungai dan Keyakinan Meminta Hujan
Di balik praktik teknis mencari ikan, tersimpan dimensi spiritual yang mendalam. Konon, di dalam palung sungai terutama di lubuk-lubuk yang paling dalam bersemayam Lobahtak atau Sang Naga Air.
Bagi masyarakat masa lampau, ikan-ikan dan seluruh biota air bukanlah sekadar hasil tangkapan liar, melainkan hewan ternak peliharaan sang penunggu sungai.
Sebagaimana manusia memelihara ayam, babi, anjing, kucing dan sebagainya di sekitar rumah mereka, demikian pula Lobahtak memperlakukan ikan-ikan di sungai. Mereka dijaga, dirawat, dan dilindungi dengan penuh ketulusan oleh sang penghuni dasar air.
Masyarakat jaman dahulu memandang alam dengan penuh misteri dan kearifan. Mereka percaya bahwa ritual menuba dapat menjadi sarana untuk memanggil hujan agar segera turun menyirami bumi.
Mengapa masyarakat jaman dahulu memandang demikian?
Logika kultural ini berpijak pada keyakinan bahwa ketika menuba dilakukan, sebagian ikan akan mabuk dan dengan mudah ditangkap oleh warga. Namun, di sisi lain, Lobahtak tentu tidak ingin hewan peliharaannya musnah.
Demi menyelamatkan ternaknya agar tidak habis, sang Lobahtak diyakini akan segera menurunkan hujan agar air sungai kembali pasang dan hewan peliharaannya selamat. Kurang lebih, itulah esensi magis dan harapan di balik tradisi menuba sebagai ritual memohon hujan pada masa lampau.
Ritual Sakral dan Persiapan Malam Sebelum Menuba
Pelaksanaan menuba tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Rangkaian kegiatan ini diawali dengan pelaksanaan ritual secara adat.
Sebagai langkah awal, akar-akar tuba dikumpulkan menjadi satu tempat dan dibiarkan semalam. Pada malam persiapan inilah para tetua adat biasanya berkumpul dan bercerita (ngolimoi) untuk menyampaikan maksud dan memohon izin kepada alam serta penunggu sungai.
Nilai Sosial dan Pantangan Adat yang Mengikat
Menuba bukan sekadar mencari lauk, melainkan momen kebersamaan yang mempererat ikatan sosial satu kampung. Semua proses mulai dari musyawarah, mencari bahan tuba di hutan, hingga membagi hasil dilakukan secara gotong royong.
Kemampuan merawat tradisi dan menjaga keharmonisan lewat kegiatan positif seperti ini pada akhirnya akan membawa nama baik dan mengharumkan kampung tersebut, sebuah kehormatan yang biasa disebut sebagai Tarung.
Menariknya, masyarakat jaman dulu selalu menggunakan bahan alami yang tidak merusak ekosistem secara permanen. Penggunaan tuba hanya membuat ikan-ikan besar mabuk sementara, sementara ikan kecil atau biota lain tetap aman, dan sungai pun terbebas dari pencemaran bahan kimia.
Kesucian tradisi ini dijaga ketat oleh berbagai pantangan (pamali) yang wajib dipatuhi. Masyarakat percaya jika aturan ini dilanggar, air tuba akan menjadi tawar dan ritual kehilangan tuahnya.
Pantangan tersebut meliputi larangan menangkap ikan dengan cara pomolong diparang, (ngolucak danum) meludahi air sungai, berbicara sembarangan, serta larangan bagi perempuan yang sedang haid dan warga yang mengalami (boringan) luka fisik untuk turun ke sungai.
Di tengah ketatnya aturan tersebut, biasanya ditunjuk secara khusus satu orang untuk menanggung berbagai pantangan tertentu, sebab ada beban spiritual yang tidak semua orang sanggup melaksanakannya.
Dalam pelaksanaannya, tidak sembarang alat tangkap yang boleh digunakan. Peralatan yang diizinkan hanya terbatas pada antara lain pasai, kabeu, sopahkang, dan duhuk.
Setelah akar tuba ditumbuk hingga menyerupai perasan yang mengeluarkan cairan putih pekat, dikumpulkan ke dalam beberapa buah sampan. Ketika semua persiapan selesai, sampan-sampan itu dikayuh ke bagian hulu lubuk dan beberapa titik strategis lainnya. Perasan tuba kemudian ditumpahkan agar menyebar ke segala penjuru air, membuat ikan-ikan besar mulai mabuk ke permukaan.
Usai penangkapan, tibalah momen yang paling dinantikan: pembagian hasil. Ikan-ikan tersebut dibagikan kepada setiap orang yang hadir tanpa terkecuali, sekecil apa pun bagian yang didapat. Bahkan, kepala keluarga yang berhalangan hadir tetap mendapatkan jatahnya. Tidak ada satu pun warga yang terlewati, dan sama sekali tidak ada istilah jual beli dalam pembagian hasil tangkapan ini.
Melalui tradisi menuba, leluhur kita telah mengajarkan bagaimana manusia bertahan hidup dan beradaptasi di tengah bencana kekeringan, merawat solidaritas sosial tanpa pandang bulu, sekaligus memperlakukan alam dengan penuh rasa hormat.
Refleksi Warisan Leluhur
Kini, di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, timbul pertanyaan mendasar. Bagaimana tradisi menuba dijalankan hari ini?
Apakah nilai-nilai kearifan, penghormatan pada alam, dan solidaritas sosial itu masih mengakar kuat, ataukah ia telah bergeser sekadar menjadi tontonan hiburan dan seremonial belaka demi meramaikan suasana?
Entahlah, waktu dan komitmenlah yang akan menentukan. Yang pasti, sebuah warisan leluhur tidak akan pernah kehilangan nyawanya selama kita tidak memperlakukannya sebagai masa lalu yang asing, melainkan sebagai cermin untuk merawat bumi dan sesama.***