Lima Jam Menyusuri Sungai Melawi: Dari Nanga Serawai ke Nanga Kemangai
Literasiuuddanum.com-Pagi itu, kabut asap yang tebal menyelimuti Nanga Serawai. Kondisi udara yang semakin memburuk memaksa aktivitas Belajar Dari Rumah (BDR) diberlakukan bagi anak-anak dari setiap jenjang satuan pendidikan, menyusul terbitnya Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang Nomor 800.1.11/3583/DISDIKBUD-A2 tanggal 18 Agustus 2026, yang merupakan lanjutan dari surat edaran sebelumnya. Langkah serupa juga diambil oleh satuan pendidikan tingkat SMA dan SMK yang mengikuti arahan dari Dinas Pendidikan Provinsi.
(Kiri atas): Pemandangan di pantai Nanga Serawai, (Kiri bawah): Bersama istri setelah menarik sampan, (Kanan): Mendorong sampan
Kabut asap selalu menjadi persoalan serius yang datang bersamaan dengan musim kemarau. Dampaknya tidak berhenti pada udara yang menyesakkan dada. Musim kemarau yang berkepanjangan turut mengubah wajah alam secara drastis, khususnya pada debit air Sungai Melawi yang menyusut tajam.
Arus sungai yang biasanya deras dan lebar kini mengecil dan dangkal. Di kiri dan kanan alur sungai, hamparan bebatuan yang selama ini tersembunyi kini bermunculan ke permukaan, tunggul-tunggul kayu yang berserakan dan tumpukan kerikil.
Hari itu, tepatnya Jumat, 21 Agustus 2026, saya dan sang pujaan hati melakukan perjalanan menggunakan sampan fiber bermesin 15 PK menuju Kecamatan Ambalau, setelah sebelumnya menempuh perjalanan dari Sintang menuju Serawai melalui jalur darat.
Dalam kondisi normal, perjalanan dari ibu kota Kecamatan Serawai menuju ibu kota Kecamatan Ambalau hanya memerlukan waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam.
Sebelum berangkat dari pangkalan di Nanga Serawai pada pukul 09.30 WIB, kami singgah di sebuah kios untuk mengisi 20 liter bensin dengan harga Rp20.000 per liter. Setelah itu, petualangan pun dimulai.
Sengatan matahari siang itu terasa kian membakar. Perlengkapan kami pun lengkap. Topi pelindung kepala tak pernah lepas, kacamata hitam Ray-Ban bertengger di mata untuk meredam silau, dan masker setia menempel di hidung agar asap tidak masuk ke saluran pernapasan.
Ketika Sungai Menjadi Dangkal
Jika dalam kondisi normal lalu lintas air begitu ramai, hari itu sungguh berbeda. Sungai terasa lengang. Kami hanya sesekali berpapasan dengan perahu bermesin kecil yang disebut cis oleh masyarakat setempat. Itu pun hanya melakukan perjalanan jarak dekat, sekadar untuk memancing dan memasang pukat.
Di beberapa titik yang sangat dangkal, kaki mesin terpaksa diganjal menggunakan potongan kayu agar kipasnya tidak menghantam kerikil atau bebatuan. Akibatnya, laju sampan menjadi sangat lambat dan gas mesin harus dikecilkan. Bahkan, di beberapa titik yang paling parah, mesin terpaksa dimatikan total. Kami berdua harus turun ke air. Sang pujaan hati menarik tali dari depan, sementara saya mendorong sampan dari belakang.
Tonton Video : Narik sampan saat musim kemarau
Sejauh mata memandang, rasanya tidak tega melihat perempuan kesayangan harus ikut menguras tenaga di tengah sungai. Namun, mau bagaimana lagi? Kalau harus mendorong sampan sendirian, tenaga saya tentu tidak akan sanggup.
Kala badan mulai didera rasa lelah yang luar biasa, kami menepi sejenak di bawah kerindangan pohon untuk mencari tempat teduh sekaligus menyantap bekal makanan. Demi mencairkan suasana dan mengusir rasa penat, kami saling melempar candaan ringan. Setelah tubuh sedikit segar, perjalanan pun kembali dilanjutkan.
Memasuki pertengahan perjalanan, rasa was-was tiba-tiba muncul. Jangan-jangan persediaan bensin tidak cukup untuk menghantarkan kami sampai ke tujuan. Akhirnya, kami singgah di sebuah kios dan membeli tambahan 5 liter bensin dengan harga Rp22.000 per liter. Setelah itu, perjalanan kembali dilanjutkan.
Pukul 16.00 WIB, sampan kami akhirnya bersandar di pangkalan Nanga Kemangai. Badan terasa lelah luar biasa, seolah seluruh tenaga telah terkuras habis. Perjalanan kali ini benar-benar menguji kami. Waktu tempuh normal berubah drastis menjadi kurang lebih lima jam penuh perjuangan.
Buru-buru kami naik menuju rumah. Setiba di halaman, kami disambut oleh tiga ekor kucing peliharaan yang langsung berlari kegirangan. Mereka tak mengerti bahwa tuannya baru saja menempuh perjalanan yang melelahkan.
Renungan tentang Alam
Pemandangan di sekitar rumah tak kalah memprihatinkan. Tanaman di pekarangan tampak layu karena kehausan. Bahkan, bibit kayu belian yang saya semai di dalam polybag pun ikut mati, tak mampu bertahan menghadapi cuaca yang begitu panas dan kering.
Lebih memprihatinkan lagi, kolam ikan di dekat rumah hampir mengering. Untunglah ikan lele dikenal tangguh, sehingga masih mampu bertahan hidup di sisa-sisa air kolam yang bercampur lumpur pekat, menyerupai tekstur bubur nasi.
Sungguh, kemarau panjang ini menyisakan tanya sekaligus renungan di dalam hati. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apakah ini sekadar ujian musim, atau benarlah kata Ebiet G. Ade, bahwa alam sudah mulai bosan melihat tingkah polah manusia?
Ah, sudahlah. Aku pun tak ingin terlalu pusing memikirkannya. Jalani saja apa yang ada di depan mata. Beginilah tabiat manusia, kala hujan datang, merindukan kemarau. Sebaliknya, tatkala kemarau mencekik, mengharapkan hujan.
Rasanya, alam memang tak pernah benar di mata manusia. Padahal, kitalah yang kerap lupa menjaga keseimbangannya. ***
Penulis: Jonison