Ketika Alam Menjadi Guru: Perumpamaan dalam Bahasa Dayak Uud Danum
Literasiuuddanum.com-Ada banyak cara orang tua mengajarkan kehidupan kepada anak-anaknya. Tidak semuanya disampaikan melalui nasihat panjang. Kadang-kadang cukup dengan beberapa kata yang sederhana, tetapi orang yang mendengarnya langsung memahami maksudnya.
Foto hanya pemanis cerita
Mereka mengambil peristiwa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, kemudian menjadikannya ungkapan/perumpamaan yang mengandung makna lebih luas.
Sungai, riam, sampan, ladang, pohon, padi, rusa, bahkan monyet, semuanya dapat menjadi bagian dari bahasa untuk menggambarkan perilaku manusia.
Bagi orang yang tidak mengenal kehidupan suku Dayak Uud Danum beberapa ungkapan/perumpamaan mungkin terdengar asing. Namun, bagi masyarakat yang tumbuh bersama sungai dan hutan, maknanya terasa begitu dekat.
Nguhkut Puhkang Arok Baui
Nguhkut berarti meraih ke bagian bawah, puhkang berarti dasar atau bagian bawah, sedangkan arok baui menunjuk pada sesuatu yang berada di bagian mulut atau permukaan.
Bayangkan seseorang yang sibuk meraih hingga ke dasar, padahal apa yang dicarinya sebenarnya sudah ada di permukaan. Gambaran sederhana itu digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mencari sesuatu terlalu jauh, sementara yang dibutuhkannya sudah tersedia di depan mata.
Dalam kehidupan sehari-hari, perumpamaan ini dapat menggambarkan orang yang mengabaikan kesempatan atau rezeki yang sudah ada di dekatnya, tetapi justru mengejar sesuatu yang jauh dan belum tentu diperoleh.
Kadang-kadang yang membuat hidup terasa sulit bukan karena tidak ada jalan, tetapi karena kita tidak melihat jalan yang sebenarnya sudah terbuka.
Sepung Tepun Tarung, Lambang Tepun Ongang
Sepung dan Lambang merupakan nama orang. Tepun berarti punya atau memiliki, tarung berkaitan dengan menjadi terkenal atau memperoleh nama, sedangkan ongang berarti usaha atau upaya.
Perumpamaan ini menggambarkan keadaan ketika seseorang telah bekerja keras, tetapi orang lain yang memperoleh nama.
Dalam kehidupan, keadaan seperti itu bukan sesuatu yang asing. Ada orang yang mengerjakan pekerjaan dari awal sampai selesai, mencurahkan tenaga dan pikiran, tetapi ketika hasilnya terlihat, orang lain justru tampil menerima pujian. Orang yang bekerja tetap berada di belakang.
Karena itu, ungkapan ini seakan mengingatkan bahwa sebuah keberhasilan tidak selalu lahir dari orang yang namanya paling sering disebut. Di baliknya mungkin ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam.
Bahkai Kongolanon, Dalit Bokuhpak
Bahkai berarti monyet atau kera. Kongolanon menggambarkan keadaan tidak tidur semalam suntuk. Dalit adalah bagian bawah batang pohon besar sebagai penopang yang berada di atas akar , sedangkan bokuhpak berarti terkelupas.
Bayangannya adalah seekor monyet yang berada di atas pohon dan sulit ditangkap. Karena tidak berhasil mendapatkan monyet itu, bagian bawah (dalit) pohonnya justru dipangkong sampai kulitnya terkelupas.
Monyet yang menjadi sasaran, tetapi pohon yang menjadi korban.
Dalam kehidupan, gambaran ini dapat digunakan ketika seseorang salah menghadapi persoalan. Karena tidak mampu mencapai sasaran, justru pihak lain yang terkena akibatnya.
Bisa juga terjadi ketika seseorang mengejar sesuatu dengan cara yang keliru hingga merusak hal yang sebenarnya tidak berkaitan dengan persoalan tersebut.
Perumpamaan seperti ini terasa sederhana, tetapi tegurannya cukup tajam.
Kolou Ahtak Holang Aluk
Kolou berarti seperti. Ahtak adalah antah atau butiran padi yang masih bercampur dengan beras. Holang berarti di antara, sedangkan aluk adalah alu, alat penumbuk padi yang terbuat dari kayu.
Membayangkan antah berada di antara alu tentu bukan gambaran tentang tempat yang aman. Ada tekanan dari berbagai arah. Karena itu, perumpamaan ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berada dalam keadaan sulit dan harus pandai membawa diri.
Di tengah situasi yang penuh tekanan, tidak semua persoalan harus dihadapi dengan cara yang sama. Ada saatnya seseorang harus berbicara, ada saatnya diam, dan ada saatnya menunggu keadaan menjadi lebih baik.
Bukan berarti takut menghadapi keadaan. Yang diperlukan adalah kemampuan membaca situasi.
Harap Ucang Luvang Tajak
Harap berarti berharap. Ucang berarti rusa. Luvang berarti dalam, sedangkan tajak adalah semak-semak yang tumbuh di bekas ladang.
Mengharapkan rusa berada jauh di dalam semak bekas ladang tentu belum menjamin rusa itu benar-benar ada. Dari situlah muncul gambaran tentang seseorang yang menggantungkan harapan kepada sesuatu yang belum pasti.
Harapan memang diperlukan dalam hidup. Namun, harapan tanpa kepastian tidak dapat dijadikan satu-satunya pegangan. Ada hal-hal yang harus dicari, diusahakan, dan dipastikan terlebih dahulu.
Orang tua tampaknya sudah lama menyadari bahwa tidak semua yang diharapkan akan datang sesuai keinginan.
Nohkon Manyih Dohos
Nohkon menggambarkan orang yang berada di dalam sampan dan menggunakan sebatang kayu atau bambu untuk membantu mendorong sampan di atas air. Manyih berarti mumpung atau selagi, sedangkan dohos berarti riam.
Ketika sampan hendak menghadapi riam, kesempatan untuk mengatur arah dan memperkuat dorongan tidak boleh disia-siakan. Selagi masih memungkinkan untuk berbuat sesuatu, lakukanlah.
Perumpamaan ini kemudian menjadi nasihat sederhana. Selagi kesempatan masih ada, gunakan sebaik-baiknya.
Kesempatan dalam hidup barangkali seperti arus sungai. Ia datang, bergerak, lalu berlalu. Orang yang berada di dalam sampan harus tahu kapan harus mendorong dan kapan harus mengendalikan arah.
Arak Ngauk Kuhung Dohos
Arak berarti jangan, ngauk berarti berteriak, kuhung menunjuk pada kepala atau bagian hulu riam, sedangkan dohos berarti riam.
Seseorang yang masih berada di bagian hulu riam tentu belum dapat mengatakan bahwa ia sudah berhasil melewatinya. Perjalanan masih berlangsung dan arus masih dapat berubah.
Begitu pula kehidupan. Sesuatu yang belum selesai jangan dirayakan seolah-olah sudah berhasil seluruhnya. Keberhasilan yang belum sampai pada tujuan masih membutuhkan ketekunan.
Ada kalanya manusia gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu cepat merasa telah berhasil.
Touk-Touk Halut Holang Pukou
Touk-touk berarti pandai-pandai. Halut menggambarkan menggunakan sampan di atas air. Holang berarti di antara atau di sela-sela, sedangkan pukou adalah tunggul kayu yang ujungnya muncul di atas permukaan air.
Membawa sampan di antara tunggul-tunggul kayu membutuhkan kecermatan. Salah sedikit dalam mengarahkan sampan, perahu bisa membentur kayu yang tersembunyi di antara arus.
Dalam kehidupan pun demikian. Tidak semua rintangan terlihat dengan jelas. Ada yang tampak, ada pula yang tersembunyi. Karena itu, seseorang perlu pandai menempatkan diri dan menyesuaikan langkah dengan keadaan.
Perumpamaan ini bukan semata-mata tentang bagaimana membawa sampan di antara tunggul-tunggul kayu. Lebih jauh, ia berbicara tentang bagaimana seseorang membawa dirinya dalam kehidupan, membaca keadaan, dan menyesuaikan langkah di tengah berbagai rintangan.
Songumang Ngisok Inai
Songumang merupakan nama tokoh legenda, ngisok berarti bertanya, sedangkan inai berarti ibu. Secara harfiah berarti Songumang bertanya kepada ibunya.
Perumpamaan ini menggambarkan seseorang yang bertanya kepada orang yang sudah diketahui akan memberikan jawaban sesuai dengan apa yang ingin didengarnya. Ia bukan benar-benar mencari pandangan lain, melainkan mencari pembenaran atas apa yang sudah diyakininya.
Dalam kehidupan sehari-hari, perumpamaan ini menjadi sindiran halus kepada orang yang hanya mencari jawaban yang menguatkan pendapatnya. Kadang-kadang, kita memang perlu mendengar jawaban yang berbeda agar dapat melihat persoalan dengan lebih jernih.
Alam yang Mengajarkan Kehidupan
Yang menarik dari perumpamaan di atas adalah bagaimana alam hampir menjadi guru dalam setiap nasihat. Padi dan alu, rusa dan bekas ladang, sampan, sungai, riam, tunggul kayu, pohon, bahkan monyet, semuanya hadir sebagai bagian dari bahasa untuk membaca kehidupan.
Hal ini bukan sesuatu yang mengherankan. Bagi masyarakat Dayak Uud Danum, alam bukan sekadar ruang tempat tinggal. Sungai menjadi jalan, sampan menjadi alat perjalanan, ladang menjadi sumber kehidupan, hutan menjadi tempat mencari berbagai kebutuhan, dan riam menjadi bagian dari perjalanan yang harus dihadapi dengan kecermatan.
Dari pengalaman sehari-hari itulah lahir cara berbicara yang khas. Ketika ingin menegur seseorang yang mencari sesuatu terlalu jauh, tidak perlu mengatakan panjang lebar. Cukup dengan nguhkut puhkang arok baui.
Ketika seseorang terlalu cepat membanggakan keberhasilan, cukup dikatakan arak ngauk kuhung dohos.
Ketika seseorang harus menghadapi keadaan yang sulit, kolou ahtak holang aluk menjadi pengingat agar pandai membawa diri.
Dan ketika kesempatan datang, nohkon manyih dohos mengingatkan bahwa kesempatan itu perlu digunakan sebelum arus membawa kita melewatinya.
Begitulah bahasa bekerja. Ia tidak selalu menjelaskan sesuatu secara langsung. Kadang-kadang ia mengajak orang membayangkan.
Mungkin karena itu, perumpamaan yang diwariskan orang-orang tua tidak terasa seperti ceramah. Ia hadir melalui gambaran yang sudah dikenal. Sampan yang harus melewati riam, tunggul kayu yang harus dihindari, padi yang ditumbuk, rusa yang diburu, atau monyet yang bertengger di atas pohon.
Kini, ketika kehidupan berubah dan banyak anak muda semakin jauh dari kehidupan tradisional, perumpamaan itu menjadi sesuatu yang patut dicatat. Bukan semata-mata untuk mempertahankan kata-kata lama, tetapi untuk menjaga cara pandang yang terkandung di dalamnya.
Sebab sebuah bahasa tidak hanya menyimpan kata. Ia juga menyimpan ingatan.
Dan di dalam perumpamaan-perumpamaan Dayak Uud Danum , tersimpan ingatan tentang bagaimana orang-orang terdahulu belajar dari kehidupan di sekeliling mereka, lalu menjadikannya pelajaran untuk manusia.
Mungkin itulah sebabnya sebuah perumpamaan yang hanya terdiri dari beberapa kata dapat bertahan begitu lama.
Ia bukan sekadar kalimat.
Ia adalah pengalaman hidup yang dipadatkan menjadi bahasa.***
Penulis : Jonison