Ambalau di Pusaran Kemarau

Docpri : Pulang mandi dari Sungai Melawi
Literasiuuddanum.com-Ambalau merupakan kecamatan terluas sekaligus salah satu wilayah paling hulu di Kabupaten Sintang, Provinsi Kalbar. Beribu kota di Nanga Kemangai, terdiri dari 33 desa. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Tengah. 

Berjarak lebih dari 212 kilometer dari pusat Kota Sintang, Ambalau biasa disebut sebagai beranda pedalaman yang eksotis karena menyimpan potensi wisata alam yang megah, salah satunya Air Terjun Nohkan Lonanyan (Nokan Nayan). Namun, letak geografisnya yang berada di kawasan hulu Sungai Melawi kini menghadirkan tantangan yang tidak ringan bagi kami yang hidup dan menggantungkan banyak kebutuhan pada jalur transportasi dan sumber daya alam.

Ketika Sungai Menyusut, Jalan Darat Menjadi Pertaruhan

Bagi kami yang hendak menuju Ambalau dari Kota Sintang, perjalanan darat dapat ditempuh sekitar 1 hingga 1,5 jam melalui jalan beraspal mulus bak kulit bayi hingga Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi. Dari Nanga Pinoh, perjalanan menuju Nanga Kemangai pada kondisi normal, terutama ketika musim hujan, umumnya dilanjutkan menggunakan transportasi air dengan waktu 5-6 jam. 

Speedboat bermesin 40 PK menjadi salah satu sarana utama yang kami gunakan untuk menyusuri Sungai Melawi, melintasi beberapa kecamatan selama kurang lebih enam jam sebelum akhirnya tiba di Nanga Kemangai. Jalur air inilah yang selama ini menjadi urat nadi transportasi masyarakat Ambalau ketika kondisi sungai normal.

Namun, ketika kemarau panjang datang seperti pada saat ini dan debit Sungai Melawi menyusut drastis, perjalanan melalui sungai tidak lagi semudah biasanya. Beberapa bagian alur sungai yang sebelumnya dalam berubah menjadi dangkal, bahkan menyisakan hamparan batu dan kerikil. Risiko speedboat kandas pun semakin besar. Saat ini jalur air lumpuh total.

Dalam kondisi seperti inilah jalur darat mulai menjadi pilihan, meskipun sebenarnya tidak kalah berat.

Dari Nanga Pinoh menuju Nanga Kemangai, kami harus menempuh jalan tanah kuning berdebu yang melintasi jalur yang kadang merupakan jalan negara dan kadang pula melewati jalan perusahaan. Pada musim hujan, tidak ada mobil yang berani menembus jalur ini sampai ke Nanga Kemangai. Jalan tanah berubah menjadi licin, berlumpur, dan penuh tantangan bahkan beberapa anak sungai tanpa jembatan. 

Sebaliknya, ketika musim kemarau tiba dan permukaan jalan mengeras, barulah ada mobil-mobil yang berani mencoba menembus jalur tersebut. Itu pun bukan perjalanan biasa. Dibutuhkan nyali yang luar biasa untuk membawa kendaraan tiba di Kemangai. 

Jalan yang kering memang memungkinkan kendaraan melintas, tetapi debu kuning beterbangan begitu tebal setiap kali roda berputar. Kendaraan yang baru beberapa saat meninggalkan Nanga Pinoh dapat berubah warna, seolah baru saja dicelup ke dalam tepung tanah. Mau tidak mau, risiko itu harus diambil agar urusan tidak ikut terhenti. Perjalanan satu hari penuh. Isi dompet yang dipertaruhkan di angka 600 ribu per orang. Alamak ssttt...

Bagi kami, musim hujan dan musim kemarau sama-sama memiliki cerita transportasinya sendiri. Ketika hujan, sungailah yang menjadi jalan utama. Ketika kemarau, sungai menyusut dan jalan darat mulai dicoba, tetapi kami harus berhadapan dengan debu, panas, dan kondisi jalan yang jauh dari kata nyaman. Tidak ada pilihan yang benar-benar mudah, kami hanya menyesuaikan diri dengan apa yang masih bisa dilalui.

Pada hari-hari biasa, bentang alam Ambalau menyuguhkan pemandangan yang begitu menakjubkan. Hutan masih hijau, pepohonan tumbuh alami, kebun karet penduduk membentang, dan hamparan hutan menjadi ruang bagi kami untuk berladang. 

Namun, keindahan itu seolah luntur ketika puncak musim kemarau melanda. Pengaruh fenomena El NiƱo semakin memperparah kondisi. Sungai Melawi, Sungai Ambalau, dan berbagai urat nadi kehidupan kami menyusut drastis.

Kemarau panjang membuat debit Sungai Melawi surut total. Beberapa titik alur sungai yang sebelumnya dalam kini berubah menjadi hamparan batu dan kerikil. Kondisi ini tidak hanya membahayakan aktivitas pelayaran karena risiko perahu kandas, tetapi juga memicu lonjakan biaya transportasi. 

Kami yang terpaksa bepergian ke Kota Sintang harus beralih menggunakan kendaraan darat melalui jalan tanah kuning. Pada musim kemarau, jalan itu berubah menjadi sumber debu yang tiada habisnya. Setiap kendaraan yang melintas meninggalkan kepulan debu tebal yang menempel pada badan kendaraan, pakaian, rumah, bahkan masuk ke sela-sela jendela.

Pada siang hari, suasana terasa semakin berat. Matahari seperti berdiri tepat di atas kepala, udara panas menyengat kulit, sementara debu beterbangan mengikuti kendaraan yang melintas. Di tengah kondisi itu, kabut asap perlahan menambah sesak suasana. Pandangan menjadi buram, udara terasa pengap, dan aktivitas di luar rumah seolah harus dilakukan dengan menahan panas, debu, serta asap secara bersamaan. 

Kemarau bagi kami bukan lagi sekadar keadaan ketika hujan jarang turun, melainkan suasana yang terasa sampai ke kulit, paru-paru, halaman rumah, jalan, dan sungai yang setiap hari kami lihat.

Ketika Air Menjadi Barang Mewah

Bukan hanya mobilitas yang terganggu. Ancaman krisis air bersih menjadi persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kami. Cadangan air di rumah semakin menipis, bahkan ada yang tinggal menyisakan satu jeriken terakhir. Air yang biasanya begitu mudah kami dapatkan kini harus dicari dengan perjalanan panjang.

Setiap pagi dan sore, pemandangan di sekitar sungai berubah menjadi pemandangan perjuangan mendapatkan air. Bukan hanya para lansia yang harus turun-naik ke sungai sambil memikul jeriken. Anak-anak, remaja, ibu-ibu, dan bapak-bapak pun melakukan hal yang sama. 

Dalam keadaan normal, ibu-ibu atau anak-anak cukup membawa ember berisi perlengkapan mandi dan sabun. Namun, pada musim kemarau seperti ini, ember sabun itu seolah harus berganti fungsi menjadi wadah air, dan perjalanan yang biasanya singkat berubah menjadi pekerjaan yang membutuhkan tenaga.

Yang lebih mengharukan, sebagian ibu-ibu dan bapak-bapak harus setiap pagi dan sore menggendong landong (tengkalang) yang berisi ken untuk mengambil air dari mata air yang letaknya cukup jauh. Tengkalang yang biasanya menjadi bagian dari keseharian masyarakat kini menjadi alat penting untuk mengangkut air. Kami menyusuri jalan, menuruni haras (bawas), melewati jalur yang kering dan panas, kemudian kembali dengan beban air di punggung. Air yang dahulu terasa seperti sesuatu yang biasa, kini harus diperjuangkan dengan tenaga dan waktu.

Bukan hanya orang dewasa. Anak-anak dan para remaja pun ikut mengambil bagian. Mereka memikul atau membawa jeriken, berjalan berulang kali dari rumah menuju sumber air dan kembali lagi. Pomeleh (gadis) yang biasa berbekal sisir pun berganti bawa ken air. Sabar ya Dik haha…

Para lansia yang tubuhnya sudah tidak sekuat dulu pun masih berusaha mengambil air selama kaki masih mampu melangkah. Pemandangan seperti ini membuat kami merasa miris. Dalam keadaan normal, urusan mandi cukup membawa ember dan sabun. 

Di tengah kondisi seperti itu, kadang kami tersenyum sendiri melihat perubahan kecil dalam keseharian. Kalau biasanya orang mandi membawa ember sabun, sekarang yang dibawa pulang justru air untuk mengisi bak toilet. 

Begitulah kemarau mengajarkan kepada kami bahwa sesuatu yang selama ini dianggap sederhana ternyata bisa menjadi sangat berharga ketika persediaannya mulai hilang.

Ladang Tak Bisa Ditugal, Api Pun Kami Takut Menyalakannya

Urusan pangan pun tidak kalah sulit. Tanaman sayur mati kehausan. Ibu-ibu yang biasanya jualan beragam sayur kini hanya mampu membawa pucuk daun singkong yang tampak pucat dan lesu. Ironi, justru itulah yang kemudian langsung diserbu pembeli karena pilihan semakin terbatas. Dalam kondisi seperti ini, apa pun yang masih bisa dijadikan sayur menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Begitu pula dengan umok (ladang). Saat ini sebenarnya sudah memasuki musim nuhkan (nugal) padi, tetapi tanah yang terlalu keras membuat warga belum berani memulai pekerjaan. Kayu tugal yang biasanya ditancapkan ke tanah untuk membuat lubang tempat benih padi kini berhadapan dengan tanah yang kering dan mengeras. Mau dipaksakan, padi tak akan tumbuh.

Membakar ladang pun bukan pilihan yang mudah. Dalam kondisi hutan dan lahan yang begitu kering, kami justru takut api yang semula dimaksudkan untuk membersihkan ladang malah menyasar ke hutan. Karena itu, sebagian dari kami memilih menunggu. 

Tetapi menunggu hujan berarti menunggu waktu yang terus berjalan, sementara musim tanam tidak bisa ditunda terlalu lama. Di sinilah dilema kami, tanah terlalu keras untuk ditugal, sementara membakar ladang pun kami tidak berani.

Sektor mata pencaharian kami pun ikut terpukul. Para penoreh karet harus menghadapi kenyataan pahit bahwa pohon karet yang menjadi andalan penghasilan seolah enggan mengeluarkan getah. Mungkin takut ketemu kabut asap kali ya? …

Situasi semakin parah ketika kabut asap mulai menebal dan berita kebakaran hutan di berbagai tempat mendatangkan kekhawatiran. Di tengah kebutuhan perut yang harus dipenuhi dan biaya pendidikan anak yang tidak bisa ditunda, sebagian dari kami terpaksa mencari sumber penghasilan lain dengan menjadi pencari emas secara tradisional.

Sejak pagi hingga menjelang sore, pinggiran sungai ramai oleh warga yang monyulang (mendulang) menggunakan peralatan seadanya. Mereka mengandalkan sisa tenaga dan berharap ada sedikit emas yang bisa dibawa pulang, meskipun hasilnya sering kali jauh dari harapan. 

Docpri: Tenda darurat tempat beristirahat dalam kegiatan mendulang emas secara tradisional tanpa merusak alam
Di satu sisi, imbauan agar kami mengurangi aktivitas di luar rumah terus disampaikan karena bahaya kabut asap. Namun, di sisi lain, dapur harus tetap ngohosun (berasap). Perut tidak mengenal musim, dan kebutuhan anak-anak tidak bisa menunggu hujan turun.

Harga Naik, Harapan Jangan Ikut Surut

Dampak lain dari terganggunya jalur transportasi adalah melonjaknya harga kebutuhan pokok. Gas elpiji 3 kilogram di tingkat kecamatan sudah menyentuh kisaran Rp70.000 per tabung, sementara bensin menembus Rp20.000 per liter. 

Pada titik ini, persoalan kami bukan lagi semata-mata soal mahal atau murah. Yang penting barangnya tersedia. Harga boleh membuat dahi berkerut, tetapi ketiadaan barang bisa membuat kepala benar-benar pusing.

Cerita ini baru menggambarkan sedikit kondisi di ibu kota kecamatan. Jika ditarik lebih jauh ke desa dan dusun-dusun terpencil, keadaannya tentu jauh lebih sunyi dari uluran tangan. Jarak, medan, dan mahalnya biaya transportasi membuat persoalan yang dihadapi tidak selalu mudah terlihat dari luar.

Menghadapi kemarau ekstrem ini, kami belum banyak mendengar informasi mengenai perhatian konkret yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, kecuali himbauan agar warga tidak membakar sampah dan ladang. 

Kami tentu memahami pentingnya menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran. Kami pun tidak ingin menjadi bagian dari bencana yang lebih besar. Namun, dalam situasi seperti ini, kami membutuhkan ketersediaan air bersih, kelancaran akses transportasi, dan keberlangsungan kebutuhan dasar masyarakat ke depannya.

Kecamatan Ambalau kini menjadi potret nyata tentang bagaimana masyarakat pedalaman Kabupaten Sintang berhadapan langsung dengan dampak perubahan iklim. Bagi kami, perubahan iklim bukan lagi istilah yang hanya diucapkan dalam pidato. Ia hadir dalam bentuk sungai yang menyusut, mata air yang harus ditempuh dengan berjalan kaki, jeriken dan tengkalang yang setiap hari dipikul, tanah ladang yang mengeras, tanaman yang mati, getah karet yang berhenti menetes, biaya transportasi yang meningkat, harga kebutuhan pokok yang melambung, panas yang menyengat, debu yang beterbangan, hingga kabut asap yang menutup pandangan.

Harapan kami sebenarnya tidaklah muluk-muluk. Kami tidak membutuhkan hujan deras yang turun seketika. Yang kami butuhkan adalah ketahanan untuk terus bertahan melewati musim ini. 

Sesekali, mata kami nokarak ku langit (menengadah ke langit), menaruh harap pada gumpalan awan mendung yang bergerak perlahan. Kami menunggu hujan sebagaimana seorang perantau menunggu kepulangan orang yang dicintainya. Namun, esok harinya yang datang justru panas yang menyengat, debu yang kembali beterbangan, dan kabut asap yang menebal.

Meski demikian, kami tetap bersyukur. Mahtan ondou (mata hari)  masih memberi kesempatan kepada kami untuk menikmati hari yang baru. Di tengah sungai yang menyusut, mata air yang harus dicari, ladang yang mengeras, tengkalang yang terus dipikul, dan kabut asap yang menebal, kami masih berdiri, masih bekerja, masih berharap, dan masih percaya bahwa hujan pada akhirnya akan datang.

Sebab bagi kami, bertahan hidup di pedalaman bukan hanya tentang menunggu hujan turun, tetapi tentang menjaga harapan agar tidak ikut mengering bersama sungai.

Musim biarlah kering, asal dompet jangan ikutan kering, hehe…

Penulis : Jonison


Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url