Membumikan KKG melalui "Pesta Pendidikan"

Literasiuuddanum.com-Menyelenggarakan kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) di wilayah perhuluan, seperti di Kecamatan Ambalau dan Kecamatan Serawai Kabupaten Sintang Kalbar, selalu menghadirkan cerita yang unik sekaligus menyentuh hati.

Docpri : Pengalungan tehpung (kue khas Dayak Uut Danum) kepada Pengawas Sekolah oleh Pengurus Adat setempat.

Di wilayah ini, batasan geografis yang menantang justru melahirkan keluhuran budi yang luar biasa. Setiap kali sekolah yang ditunjuk menjadi tempat pelaksanaan, warga desa dan pihak sekolah selalu menyambut kedatangan para peserta dengan prosesi ritual adat setempat, yaitu ritual Hopong.

Penyambutan adat ini terasa semakin meriah dan penuh sukacita apabila dalam agenda tersebut hadir Pengawas Sekolah sebagai pendamping sekaligus pemateri. Bagi masyarakat perhuluan, kehadiran pengawas, kepala sekolah dan guru-guru dari luar desa bukan sekadar urusan kedinasan biasa.

Ini adalah sebuah bentuk rasa syukur yang mendalam. Sebuah penanda nyata bahwa sekolah dan desa mereka masih dipedulikan. Ada secercah harapan besar yang mereka titipkan bahwa melalui KKG ini, denyut nadi perjuangan di beranda depan dapat membawa dampak positif, memantik perubahan, dan memajukan mutu pendidikan di desa mereka.

Harapan besar dari masyarakat tersebut harus dibayar tuntas. Pengawas, kepala sekolah, dan guru harus mampu memanfaatkan setiap momentum perjumpaan di ruang pertemuan tersebut untuk tampil sebagai motor penggerak.

Tugas mereka bukan sekadar “omon-omon”, melainkan memberikan suntikan motivasi yang membakar semangat, serta membawa pemikiran dan hal-hal baru yang segar, baik bagi para peserta KKG maupun bagi masyarakat yang hadir mendengarkan.

Sebagai contoh nyata, potret ini terlihat jelas pada pelaksanaan KKG Semester II Tahun Pelajaran 2025/2026 oleh Gugus Sabhang Utung, Kecamatan Serawai, yang dipusatkan di SDN 20 Rantau Malam. Sebuah sekolah yang terletak di penghujung Sungai Serawai.

Rangkaian kegiatan pembinaan bagi para peserta dilaksanakan secara intensif pada siang hari di dalam ruang kelas.

Kehangatan memuncak ketika malam hari tiba, di mana acara berlanjut pada agenda ramah tamah yang diinisiasi oleh pihak tuan rumah. Sebuah apresiasi tinggi patut diberikan kepada Ibu Eni Susanawati, S.Pd., selaku kepala sekolah, beserta seluruh panitia dan Komite Sekolah yang telah berhasil menggerakkan swadaya masyarakat demi mendirikan panggung pertemuan yang representatif, meskipun berada di tengah keterbatasan logistik wilayah perhuluan.

Docpri : Pengawas, KS, dan guru peserta KKG membaur bersama masyarakat setempat

Malam ramah tamah menjadi bukti nyata dari kompetensi kepemimpinan kepala sekolah dalam membangun kemitraan. Melalui obrolan ringan, senda gurau, dan suguhan lokal malam itu, terjalin komitmen yang kuat antara pihak sekolah (guru) dan masyarakat.

Energi positif yang tercipta di atas pentas sederhana ini menjadi modal utama untuk membedah materi transformasi pendidikan pada sesi berikutnya.

Baca juga : Aktif Menulis Budaya Dayak Uud Danum, Jonison Kantongi Poin Kenaikan Pangkat ASN

Melalui momen ini, kita disadarkan kembali bahwa kegiatan KKG sejatinya bukan sekadar wadah kumpul-kumpul formalitas untuk membahas administrasi, perangkat ajar, atau hal-hal yang berkaitan dengan kompetensi pengetahuan guru semata. Lebih luas dari itu, KKG mampu bertransformasi menjadi ruang kolaboratif yang hidup untuk ikut membangun peradaban masyarakat di mana sekolah itu berdomisili.

Malam keakraban antara anggota Gugus Sabang Utung dengan warga Desa Rantau Malam adalah muara dari nilai kolaborasi tersebut. Acara ini merupakan ruang komunikasi untuk menghargai kearifan lokal sekaligus memupuk rasa kebersamaan.

Ini adalah bukti nyata bahwa guru tidak hanya mendidik di balik dinding kelas, tetapi juga hadir dan mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan langsung di tengah-tengah masyarakat.

Semuanya dikemas dalam kesederhanaan yang justru sangat mengharukan. Untuk membuat gebrakan yang berdampak, modalnya ternyata cukup dengan mendirikan tenda, memanfaatkan tiang kayu sederhana, serta menyusun kursi-kursi plastik untuk dijadikan sebuah pentas.

Tanpa perlu suguhan makanan dan minuman yang mewah, serta tanpa perabotan yang serba wah. Cukup berhiaskan selembar kain merah dan putih, acara yang digelar secara spontan ini terbukti mampu berlangsung dengan sangat meriah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa guru-guru di pelosok memiliki kapasitas luar biasa untuk menggerakkan masyarakat tanpa harus terjebak dalam kemewahan materi.

Secara pribadi, saya memandang bahwa momentum ini adalah apa yang layak disebut sebagai Pesta Pendidikan. 

Bagi saya, pesta pendidikan adalah sebuah gerakan murni dan pembuktian nyata di mana kegiatan peningkatan kompetensi guru, tidak boleh lagi dikurung dalam formalitas administrasi atau batas dinding kelas semata. Gerakan ini harus meluas menjadi perayaan kolaboratif bersama masyarakat, sebuah perayaan yang jalurnya murni untuk mencerdaskan, membumi, dan mempersatukan, yang nilainya jauh berbeda dari pesta pernikahan atau keramaian umum yang biasa kita jumpai.

Jika agenda kebersamaan dan pelibatan masyarakat seperti ini dapat konsisten dilaksanakan setiap kali giliran tuan rumah KKG bergulir, saya sangat yakin marwah guru akan semakin diperhitungkan, disegani, dan dicintai oleh masyarakat.

Energi baik ini harus terus dirawat, agar di kemudian hari, praktik kolaboratif tersebut dapat terus dikembangkan sebagai bukti bahwa dari pentas tenda sederhana, sinergi besar untuk bangsa bisa dilahirkan.***



Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url