Dari Kaki Bukit Raya: Riak Cerita KKG Gugus Sabhang Utung
Literasiuuddanum.com-Liukan Sungai Serawai tidak hanya membawa arus air dari hulu, tetapi juga membawa semangat besar para guru yang mengabdi di sepanjang pesisirnya. Bagi enam SD di wilayah perhuluan ini, sarana transportasi air adalah satu-satunya akses untuk saling terhubung. Di balik tantangan jarak tersebut, Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Sabhang Utung membuktikan bahwa ruang belajar tidak mengenal batas.
Pada 20–21 Mei 2026, para guru dari SDN 8 Baras Nabun, SDN 20 Rantau Malam, SDN 21 Teluk Payang, SDN 23 Jelundung, SDN 24 Segulang, dan SDN 28 Penekasan membuktikan komitmennya menyatukan langkah, menggelar kegiatan peningkatan kompetensi guru yang kali ini dipusatkan di SDN 20 Rantau Malam.
Sekadau-Sintang menuju Nanga Serawai (18 Mei 2026)
Untuk membersamai sekaligus mengisi materi, saya berangkat dari kota Sintang pada tanggal 18 Mei 2026 pukul 08.00 pagi, sekembali dari Kongres Internasional I Literasi Dayak di Sekadau yang berlangsung pada 15–16 Mei 2026. Dengan mengendarai sepeda motor KLX, rute yang diambil melintasi Kabupaten Melawi menuju Kecamatan Serawai. Tiba di Nanga Serawai pada pukul 16.10 WIB dan bermalam di rumah keluarga sebelum melanjutkan agenda keesokan harinya.
Menyusuri Sungai Serawai (19 Mei 2026)
Keesokan harinya, Senin, 19 Mei 2026 sekitar pukul 08.00 pagi, perjalanan dilanjutkan melalui jalur sungai. Saya berangkat bersama Pak Paulus Adie, rekan sesama pengawas sekolah yang berdomisili di Nanga Serawai, serta seorang guru. Kami menggunakan speedboat yang sudah difasilitasi oleh kepala SDN 20 Rantau malam untuk menyusuri Sungai Serawai yang airnya berwarna keruh kekuningan
Di desa Nanga Segulang, speedboat menepi untuk menjemput tiga orang guru yang menumpang. Total rombongan kami di dalam speedboat menjadi delapan orang, termasuk motoris dan satu orang penumpang umum.
Perjalanan menyusuri Sungai Serawai menghadirkan tantangan tersendiri. Speedboat yang kami tumpangi harus meliuk-liuk lincah mengikuti lekukan sungai. Jalur ini tergolong cukup ekstrem. Bukan karena faktor gelombang yang besar, melainkan karena banyaknya tunggul kayu di sepanjang aliran sungai serta beberapa titik arus yang mendangkal. Ketangkasan motoris sangat diuji di sini.
Persinggahan di Desa Jelundung
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam, kami akhirnya tiba di Desa Jelundung. Kami singgah sejenak memantau SDN 23 Jelundung. Kehadiran kami disambut dengan sangat baik oleh Pak Mingguk, sang kepala sekolah. Siang itu, kami dijamu makan siang bersama di rumah beliau, yang kemudian berlanjut dengan diskusi hangat mengenai berbagai perkembangan dan kendala di sekolahnya.
Beralih ke Perahu Cis
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju SDN 20 Rantau Malam di Desa Rantau Malam. Rombongan harus berganti moda transportasi menggunakan sampan kayu bermesin, atau yang oleh warga lokal akrab disebut cis. Karena sudah memasuki wilayah perhuluan, arus sungai sangat dangkal namun airnya begitu bening hingga dasar sungai terlihat dengan jelas. Meski dangkal, alurnya cukup ekstrem dan berliku. Di sepanjang tepian, pepohonan besar berdiri kokoh menaungi sungai, menyajikan pemandangan asri yang tampak belum tersentuh tangan-tangan jahil. Setelah sekitar 20 menit menyusuri sungai, kami akhirnya tiba di pangkalan Desa Rantau Malam.
Di sini ternyata sudah ada rombongan guru dari sekolah lain yang tiba lebih awal. Kepala sekolah langsung mengarahkan para peserta ke tempat penginapan yang telah disiapkan, baik di rumah-rumah penduduk maupun di ruang kelas sekolah yang dialihfungsikan sementara.
Penyambutan Adat Hopong
Agenda berikutnya adalah berkumpul di halaman sekolah untuk mengikuti prosesi penyambutan tamu secara adat, yaitu ritual Hopong. Warga desa, tokoh masyarakat, serta anak-anak sekolah tampak sudah bersiap dan antusias menunggu. Begitu prosesi adat Hopong selesai, acara dilanjutkan dengan sesi perkenalan bersama warga.
Dukungan dan peran serta masyarakat di desa ini sungguh luar biasa. Untuk memfasilitasi kegiatan ramah tamah, pihak sekolah yang dinakhodai oleh Ibu Eni Susanawati, S.Pd., bahkan telah menyiapkan tempat khusus berupa pentas yang dinaungi atap tenda. Setelah seluruh rangkaian penyambutan selesai, rombongan menuju penginapan masing-masing untuk beristirahat dan memulihkan tenaga demi agenda esok hari.
Momen ini memantik sebuah refleksi, betapa di tengah derasnya era digital saat ini, masyarakat Rantau Malam sama sekali tidak melupakan akar budaya mereka dalam menyambut tamu.
Pelaksanaan KKG Hari Pertama (20 Mei 2026)
Kegiatan hari pertama dimulai. Peserta yang hadir tercatat sebanyak 33 orang guru. Acara dibuka oleh Paulus Adie, S.Pd., pengawas sekolah senior. Acara diselingi dengan penampilan tarian. Usai acara pembukaan dilanjutkan dengan sesi materi, di antaranya "Transformasi Pendidik: Berani Berubah atau Tergilas Zaman" serta "Implementasi Kokurikuler di SD" yang dibawakan oleh Jonison, M.Pd., dan materi aplikasi raport oleh Pak Hendri. Para peserta mengikuti jalannya sesi demi sesi dengan antusias hingga seluruh rangkaian acara hari pertama berakhir pada pukul 16.00 sore.
Rumah Betang
Di sela-sela padatnya jadwal kegiatan. Saya bersama Pak Adie menyempatkan diri berkeliling melihat suasana sekitar desa. Salah satu tempat yang dikunjungi adalah sebuah rumah betang lokal. Ada rasa haru saat memandangi bangunan kayu khas Dayak tersebut. Kondisinya tampak cukup memprihatinkan dan rapuh termakan usia. Padahal masih ada kehidupan di dalamnya. Setidaknya ada 5 Kepala Keluarga (KK) yang hingga kini masih bertahan menempatinya.
Kondisi rumah betang tersebut sempat direkam dalam bentuk video lalu dibagikan ke grup Literasi Dayak. Unggahan ini langsung memantik berbagai respons positif dan masukan dari anggota grup. Salah seorang anggota memberikan komentar, "Sangat disayangkan memang kondisinya, karena dari rumah betang itulah masyarakat Dayak sebenarnya hadir, tumbuh, dan berkembang."
Papan Informasi Jarak Bukit Raya
Di sudut lain, sebuah bangunan papan bertuliskan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Resort Rantau Malam menarik perhatian. Bangunan di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini memuat penunjuk arah unik di dindingnya tentang 7 Puncak Tertinggi di Indonesia (The Seven Summits of Indonesia).
Menariknya, informasi tersebut mencantumkan jarak tempuh dari titik resort menuju puncak-puncak tertinggi negeri ini. Membaca tulisan Bukit Raya 23 KM tertera di baris paling atas, menandakan betapa dekatnya posisi saya saat itu dengan salah satu puncak megah Indonesia. Benar-benar menghadirkan rasa senang dan bangga yang luar biasa di dalam hati.
Kelas Jauh Dusun Remukoi
Sisa waktu sore tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mengunjungi Dusun Remukoi, tempat dibukanya sebuah kelas jauh. Proses pembelajaran di kelas jauh ini masih menumpang pada sebuah bangunan balai adat. Di kelas jauh ini terdapat sekitar 30 anak yang terbagi ke dalam tiga rombongan belajar, mulai dari kelas 1 sampai kelas 3.
Kunjungan sore itu diisi dengan bersilaturahmi ke beberapa rumah warga sekitar. Melalui obrolan-obrolan ringan di beranda rumah, terasa sekali jalinan kekeluargaan yang erat dan hangat antara sesama guru dan masyarakat setempat.
Hari Kedua dan Perjalanan Pulang (21 Mei 2026)
Memasuki hari kedua, penyampaian materi KKG masih berlanjut. Memasuki sesi akhir diisi dengan pemilihan pengurus baru untuk periode 2026–2029. Hasil musyawarah, Pak Petrus Eko, S.Pd., guru dari SDN 8 Baras Nabun, resmi terpilih sebagai ketua yang baru. Seluruh rangkaian kegiatan kemudian diakhiri dengan doa penutup, sesi foto bersama, dan menikmati hidangan bersama yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu warga desa.
Menjelang persiapan pulang, cuaca tiba-tiba berubah kurang bersahabat. Hujan turun dengan sangat lebat, seolah alam pun enggan melepas keberangkatan rombongan untuk meninggalkan desa ini. Begitu hujan mulai mereda, perjalanan pulang pun dimulai dengan menembus sisa-sisa gerimis. Rombongan kembali menyusuri liukan Sungai Serawai menggunakan jalur air yang sama, hingga akhirnya tiba kembali di Nanga Serawai pada pukul 17.01 sore dalam keadaan selamat.
Refleksi Akhir
Perjalanan membersamai KKG Gugus Sabhang Utung kali ini meninggalkan kesan yang luar biasa. Menyaksikan langsung bagaimana para guru di gugus ini begitu antusias untuk terus belajar dan mengembangkan potensi diri adalah sebuah pemandangan yang menggerakkan hati.
Semangat ini tentu tidak lepas dari peran luar biasa para kepala sekolah yang begitu peduli dan berkomitmen penuh terhadap kemajuan rekan-rekan gurunya.
Tantangan geografis dan besarnya biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk bisa berkumpul di wilayah perhuluan ini terbukti sama sekali tidak menyurutkan langkah mereka. Di tengah segala keterbatasan, energi positif dan ketulusan untuk memajukan pendidikan anak-anak bangsa justru menyala semakin terang.
Semoga pengurus KKG periode 2026–2029 yang baru terpilih dapat terus merawat api semangat kebersamaan ini. Semoga KKG Gugus Sabhang Utung semakin solid, inovatif, dan konsisten dalam memfasilitasi guru-guru hebat di beranda perhuluan Serawai.
Teruslah bergerak dan menginspirasi, karena keterbatasan tempat bukanlah batas bagi lahirnya karya-karya hebat dari ruang kelas kita. ***
Penulis : Jonison, S.Pd.SD., M.Pd. (Pengawas Sekolah Disdikbud Kab. Sintang)