KKG: "Lumbung" Perubahan

Foto bersama Kepsek dan guru peserta KKG Gugus Nokan Nayan Kec. Ambalau sebelum melewati hopong
Membersamai KKG bukan sekedar menyampaikan materi pembinaan. Saat KKG ada kesempatan untuk mendengarkan pengalaman guru, berdiskusi, dan bersama-sama mencari cara agar pembelajaran di sekolah semakin baik.
Perjalanan menuju lokasi kegiatan memang tidak selalu mudah, tetapi semangat untuk terus peduli menjadi alasan untuk tetap hadir.
KKG Gugus Batu Sira
Pada 16–17 Oktober 2026, KKG Gugus Batu Sira, Kecamatan Serawai, melaksanakan kegiatan yang bertempat di SDN 3 Nanga Serawai. Gugus ini terdiri atas lima sekolah, yaitu SDN 3 Nanga Serawai, SDN 7 Buntut Ponte, SDN 9 Batu Ketebung, SDN 18 Mentayoi, dan SDN 22 Sungai Raya Padang.
![]() |
| Docpri: Foto bersama peserta gugus Batu Sira Kec. Serawai |
Pada hari kedua, peserta mengikuti materi e-Rapor yang disampaikan oleh Ibu Mursida Marbun, S.Pd., guru SDN 4 Nanga Serawai. Materi ini berkaitan dengan penggunaan e-Rapor dalam pengolahan dan pelaporan hasil belajar peserta didik.
Di bagian akhir kegiatan dilakukan pemilihan pengurus masa bakti 2026–2029, Sridevi, S.Pd., terpilih sebagai ketua, menggantikan Enok Roni, S.Pd., yang memimpin pada masa bakti sebelumnya.
Dalam kesempatan tersebut peserta menyepakati bahwa kegiatan KKG dilaksanakan secara bergiliran di setiap sekolah, satu kali setiap semester, dengan durasi dua hari (Jumat dan Sabtu). Kesepakatan ini mempertimbangkan jarak antar sekolah, biaya, dan efisiensi waktu agar kegiatan dapat berjalan lebih efektif.
Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung lancar. Meskipun satu sekolah tidak hadir dan hingga kegiatan berakhir belum memberikan konfirmasi. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan KKG tidak hanya ditentukan oleh materi yang disampaikan, tetapi oleh komitmen setiap sekolah untuk terlibat aktif dalam proses belajar bersama.
KKG Gugus Sinar Kodotu
Pada waktu yang bersamaan, KKG Gugus Sinar Kodotu juga melaksanakan kegiatan bertempat di SDN 2 Nanga Serawai. Gugus ini terdiri atas tiga sekolah, yaitu SDN 2 Nanga Serawai, SDN 6 Mentatai, dan SDN 25 Begori.
![]() |
| Docpri: Foto bersama peserta gugus Sinar Kodotu Kec. Serawai |
Pembukaan kedua kegiatan diatur dengan selisih waktu sekitar 30 menit. Dengan koordinasi yang baik antara pengurus kedua gugus yang dibantu kepala sekolah penyelenggara, jadwal penyampaian materi pun dapat disusun tanpa bertabrakan. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi dan kerja sama menjadi kunci agar kegiatan tetap berjalan efektif meskipun berlangsung di dua tempat berbeda tetapi waktu yang bersamaan.
Di Gugus Sinar Kodotu, acara pembukaan dilaksanakan tepat pukul 08.00 WIB dan dibuka Pengawas Sekolah. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan materi penyusunan kisi-kisi dan latihan yang disampaikan oleh Ibu Margaretha Dhoy, S.Pd., M.Pd.
Pada hari kedua, peserta memperoleh materi pembinaan dari Pengawas Sekolah dengan tema “Keluar dari Zona Nyaman atau Tergilas Zaman.” Materi ini mengajak peserta untuk terus belajar, terbuka terhadap perubahan, serta tidak berhenti mengembangkan kemampuan diri. Dunia pendidikan terus bergerak, sehingga pendidik perlu beradaptasi dan memperbarui pengetahuan serta praktik pembelajarannya.
Pada sesi terakhir sebelum penutupan, dilakukan pengukuhan pengurus KKG yang dinakhodai oleh Ibu Agustina Bansar, S.Pd.Gr., guru SDN 2 Nanga Serawai. Dalam kesempatan tersebut dilakukan penambahan susunan pengurus inti untuk mendukung pelaksanaan program komunitas.
Kegiatan berlangsung lancar dan sesuai harapan. Dua kegiatan KKG yang berjalan pada waktu bersamaan di Kecamatan Serawai ini memperlihatkan bahwa keterbatasan waktu dapat diatasi melalui koordinasi yang baik. Pengurus gugus memiliki peran penting dalam mengatur kegiatan, dan Pengawas Sekolah berupaya memastikan pembinaan tetap terlaksana sesuai kebutuhan guru.
Dari Kecamatan Serawai menuju Kecamatan Ambalau
Usai membersamai kegiatan KKG di Kecamatan Serawai, perjalanan berlanjut menuju Kecamatan Ambalau. Pada 18 Oktober 2026, sekitar pukul 12.05 WIB, setelah memberikan tutorial secara daring kepada mahasiswa S1 Universitas Terbuka di SALUT Binneka Melawi, saya berangkat menuju Nanga Kemangai.
Perjalanan kali ini menumpang speed boat bermesin 40 PK dengan biaya Rp250.000. Karena kondisi Sungai Melawi sedang surut, perjalanan memerlukan waktu sekitar dua jam. Di tengah kabut asap yang tebal, speed boat terus melaju menyusuri sungai Melawi menuju Kecamatan Ambalau.
Keesokan harinya, 19 Oktober 2026, sekitar pukul 14.00 WIB, perjalanan dilanjutkan dengan menyewa jasa ojek lokal menuju Desa Kesange melalui jalan perusahaan. Tujuan utama adalah SDN 8 Mensuang, tempat pelaksanaan KKG Gugus Nokan Nayan.
![]() |
| Foto menyewa jasa ojek lokal menuju Kesange |
Saat itu, arus Sungai Ambalau bagian hulu sangat surut. Ketika tiba di Riam Lebane, saya harus turun dan berjalan kaki karena kondisi riam cukup dangkal dengan bebatuan menghadang di tengah-tengah arus yang menantang. Hanya motoris dan seorang pemandu yang tetap berada di atas sampan untuk mengarahkan cis melewati bagian sungai tersebut.
Kami akhirnya tiba di pangkalan Desa Mensuang pada pukul 16.25 WIB. Perjalanan ini kembali mengingatkan bahwa menjangkau sekolah-sekolah di wilayah pedalaman tidak selalu dapat dilakukan dengan mudah. Jarak, kondisi sungai, dan keterbatasan akses menjadi bagian dari kenyataan yang harus dihadapi dalam pelaksanaan tugas kepengawasan.
Malam itu, saya menginap di ruang perpustakaan SDN 8 Mensuang. Ruangan tersebut telah disekat menjadi dua bagian menyerupai kamar dan menjadi tempat tinggal salah seorang guru serta kepala sekolah. Di sekolah ini tidak tersedia rumah dinas guru, sehingga ruang perpustakaan dimanfaatkan sebagai tempat tinggal.
Pemandangan tersebut memberikan gambaran nyata tentang kondisi yang dihadapi para pendidik di SDN 8 Mensuang. Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana, mereka tetap berusaha menjalankan tugas pendidikan dan mendampingi peserta didik.
KKG Gugus Nokan Nayan
Pada 20–21 Oktober 2026, KKG Gugus Nokan Nayan melaksanakan kegiatan di SDN 8 Mensuang, Kecamatan Ambalau. Gugus ini terdiri atas delapan sekolah dasar, yaitu SDN 8 Mensuang, SDN 10 Menantak, SDN 11 Buntut Sabon, SDN 12 Buntut Purun, SDN 15 Kepingoi, SDN 17 Mentomoi, SDN 21 Menakon, dan SDN 27 Deme.
![]() |
| Foto bersama peserta KKG Gugus Nokan Nayan Kec. Ambalau |
Prosesi tersebut menjadi bagian yang berkesan dalam kegiatan ini. Selain menjadi pembuka kegiatan, pelaksanaan adat setempat memperlihatkan bahwa sekolah berada di tengah masyarakat yang memiliki tradisi dan kearifan lokal yang patut dihargai.
Materi pertama tentang Desain RPM Berbasis PBL yang disampaikan oleh Ibu Paula Juniati, S.Pd. Materi ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperdalam pemahaman mengenai perencanaan pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah.
Pada hari kedua, materi asesmen dalam pembelajaran oleh Pengawas Sekolah. Pembahasan kembali menekankan pentingnya perencanaan asesmen yang baik, dimulai dari penyusunan kisi-kisi hingga pengembangan butir soal yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang hendak diukur.
KKG menjadi tempat untuk saling belajar, ruang untuk memperkuat pengetahuan dan berdiskusi mengenai praktik pembelajaran. Pengalaman dan tantangan yang dihadapi setiap sekolah dapat menjadi bahan refleksi bersama untuk menemukan langkah perbaikan.
Pada sore hari, kegiatan ditutup. Sebagian peserta langsung kembali ke tempat masing-masing, terutama mereka yang kendaraan jemputannya telah tiba.
Singgah di SDN 14 Kesange
Pada 22 Oktober 2026, saya meninggalkan SDN 8 Mensuang dan kembali menuju Desa Kesange. Dalam perjalanan tersebut, saya menyempatkan diri singgah di SDN 14 Kesange untuk memantau proses pembelajaran.
![]() |
| Foto bersama guru SDN 14 Kesange Kec. Ambalau |
Kenyataan ini memunculkan pertanyaan sekaligus permenungan. Di tengah keterbatasan penghasilan, terutama bagi guru PPPK paruh waktu, mereka tetap bertahan dan menjalankan tugas di sekolah. Dedikasi tersebut patut mendapat perhatian, sebab keberlangsungan pembelajaran di sekolah tidak hanya ditentukan oleh program dan kebijakan, tetapi oleh orang-orang yang hadir dan bekerja setiap hari bersama peserta didik.
Setelah berdiskusi dengan para guru, kami berfoto bersama. Selanjutnya, saya kembali menuju Nanga Kemangai dengan menyewa kendaraan bermotor milik seorang warga setempat.
Kunjungan singkat ini menambah pengalaman dan pemahaman tentang kehidupan sekolah di wilayah pedalaman. Melihat langsung kondisi sekolah membantu meyakinkan bahwa pembinaan tidak cukup hanya dilakukan melalui dokumen, laporan, atau pertemuan formal. Kehadiran di sekolah memberikan kesempatan untuk melihat kenyataan, mendengarkan cerita para guru, dan memahami kebutuhan mereka secara lebih dekat.
Penutup
Rangkaian kegiatan KKG di Gugus Batu Sira, Gugus Sinar Kodotu, dan Gugus Nokan Nayan memberikan banyak pelajaran tentang arti kebersamaan dalam dunia pendidikan. Dari diskusi mengenai asesmen dan e-Rapor, desain pembelajaran, hingga pembinaan tentang pentingnya keluar dari zona nyaman, semuanya mengarah pada satu tujuan yaitu mendorong guru untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas pembelajaran.
Perjalanan menuju sekolah-sekolah di pedalaman memberikan pelajaran tersendiri. Sungai yang surut, riam yang harus dilalui dengan berjalan kaki, kabut asap, keterbatasan transportasi, hingga ruang perpustakaan yang digunakan sebagai tempat tinggal menjadi bagian dari kenyataan yang ditemui. Semua itu menjadi pengingat bahwa di balik pelaksanaan pendidikan terdapat perjuangan dan pengorbanan banyak orang.
![]() |
| Foto dalam sampan cis menyusuri Sungai Ambalau dari Mensuang menuju Kesange |
Perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, perubahan berawal dari pertemuan sederhana, satu materi yang dipahami bersama, satu pengalaman yang dibagikan, atau satu kesepakatan yang dijalankan secara konsisten. Jika ruang-ruang kolaborasi seperti KKG terus dipelihara, guru tidak harus menghadapi tantangan pendidikan seorang diri.
Pada akhirnya, jarak boleh menjadi tantangan, fasilitas boleh terbatas, dan perjalanan terkadang tidak mudah. Namun, KKG adalah sarang bertumbuh tempat para pendidik bertumbuh dan menolak tergilas zaman. Sebab, pendidikan yang bermutu dapat diperoleh melalui komitmen, kepedulian, dan kerja sama semua pihak yang terus berupaya menghadirkan perubahan nyata bagi sekolah dan peserta didik.***
Oleh: Jonison, S.Pd.SD., M.Pd.
Pengawas Sekolah Dasar Kabupaten Sintang Wilayah Kecamatan Serawai dan Ambalau





